Rabu, 20 Juni 2018
Limit News > Jakarta > Hakim Dilaporkan, Bawas MA Panggil Pelapor
Posted By: limitnews, 6:32 pm, Juni 2, 2018

Hakim Dilaporkan, Bawas MA Panggil Pelapor

Share

limitnews.net

Pelapor Herman Yusuf saat di Ombudsman Republik Indonesia (ORI). Foto Tomson

JAKARTA – Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA) RI telah meminta keterangan tambahan dari Herman Yusuf , di Jalan Ahmat Yani (BayPass), Kantor Bawas MA RI, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2018).

Herman Yusuf dipanggil untuk dimintai keterangan tambahan oleh Inspektur Bawas MA selaku yang melaporkan Hakim Mulyadi, SH, MH, Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, yang dilaporkan melanggar hukum acara KUHAPerdata, pada saat menangani perkara No. 603/Pdt/G/PN-Jkt.Ut.

Hakim Mulyadi Cs selain dilaporkan ke Bawas MA juga dilaporkan ke Komisi Yudisial (KY), dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

Dalam laporannya itu, Herman meminta hakim Mulyadi dipecat atau di non palukan karena hakim tersebut dinilai sudah menodai profesi hakim.

“Menurut Bawas ini termasuk pelanggaran berat,” kata Herman menirukan pernyataan bagian pemeriksa Hakim di pengawasan MA, Kamis (31/5/2018).

“Saya menilai hakim Mulyadi sudah jelas melanggar hukum acara dalam persidangan, itu tidak adil bagi saya, maka sampai kemana pun saya akan perjuangkan agar hakim tersebut segera diberhentikan atau non palu. Dimana kalau yang demikian tetap dibiarkan, hancurlah hukum di negeri ini dan bagaimana bagi pencari keadilan yang lain kalau hukum bisa dipermainkan dan diperjualbelikan,” tambahnya.

Menurut Herman Yusuf, pada saat agenda jawaban Perkara Perdata Gugatan Wanprestasi, dengan Nomor: 603/Pdt.G/2017/PN.JKT.UT. antara Herman Yusuf sebagai penggugat melawan Soeseno Halim (tergugat I), Arifin Lie (tergugat II), Triadi Budi Setijono (tergugat III), dan Halim Purnama (tergugat IV), Rabu (16/5/2018).

Dalam materi putusan itu, ada surat jawaban dari tergugat I (Suseno Halim) padahal saat jadwal agenda jawaban persidangan, tergugat I tidak memberikan surat jawaban kepada majelis. Dan hakim menyatakan tidak akan memanggil tergugat I tersebut lagi pada siding berikutnya.

Tetapi pada saat agenda persidangan masuk agenda duplik, tergugat I menyerahkan jawaban kepada hakim. Atas kejadian itu, Herman Yusuf (penggugat) protes.

“Majelis yang mulia, agenda jawaban sudah berlalu, hari ini adalah agenda duplik, mengapa majelis menerima surat jawaban tergugat? Apakah itu tidak melanggar hukum?,” protes Herman di hadapan persidangan.

Kemudian mejelis berembuk dengan berbisik-bisik, dan akhirnya hakim Tugiyanto mengambil keputusan dan mengatakan, “Terimah saja, untuk dibaca-baca”.

Namun pada saat agenda sidang pembacaan putusan dibacakan dipersidangan, majelis hakim membacakan juga surat tergugat I, yang disebutkan hakim Tugiyono: “Terima saja untuk dibaca-baca”.

Mendengar adanya surat jawaban tergugat I dalam putusan, Herman Yusuf yang berprofesi wartawan hukum itu langsung protes dan menuding hakim telah menerima suap.

“Coba bayangkan, saat saya protes tergugat memberikan jawaban pada saat agenda duplik, hakim mengatakan bahwa surat jawaban itu hanya untuk dibaca-baca. Ternyata surat jawaban tergugat I itu dibacakan juga saat putusan perkara dibacakan. Akhirnya putusan mengatakan bahwa gugatan ditolak, dengan pertimbangan “Nebis in idem”,” tegas Herman dengan dongkol. (Tom)

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz