Sabtu, 20 Juli 2019

limitnews.net

Limit News > Jakarta > Masuk DPO, Hakim Sunarso Malah Jadikan Terdakwa Tahanan Kota
Posted By: limitnews, 5:04 AM, 19 Juni 2019

Masuk DPO, Hakim Sunarso Malah Jadikan Terdakwa Tahanan Kota

Share

limitnews.net

Proses persidangan di PN Jakarta Pusat. Foto Tomson

JAKARTA – Ketua Majelis Hakim Sunarso SH, MH mengalihkan penahanan terdakwa Advokat Albert Tiensa, SH, dari tahanan Rutan Salemba menjadi tahanan kota, padahal diketahui terdakwa Albert Tiensa sebelumnya sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan surat DPO/343/XII/2018/Ditreskrimum yang ditandatangani Kasubdit 2 Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Nuredy Irwansyah pada Desember 2018.

DPO itu dibuat setelah Jaksa peneliti dari Kejati DKI Jakarta menyatakan bahwa berkas terdakwa Advokat Albert Tiensa, SH sudah lengkap dan penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya hendak pelimpahan berkas, barang bukti dan tersangka ke kejaksaan, terdakwa Albert Tiensa tidak hadir.

Meskipun telah dilakukan pemanggilan secara patut sebanyak 3 kali oleh Polda Metro Jaya, namun terdakwa Albert Tiensa tidak hadir juga, sehingga nama Albert Tiensa dimasukkan dalam daftar pencarian orang oleh Polda Metro Jaya.

Yang menjadi sorotan, apa pertimbangan subjektif majelis hakim untuk mengalihkan penahanan seorang terdakwa yang sudah masuk daftar DPO?

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maidarlis, SH., MH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta kembali menghadirkan terdakwa Advokat Albert Tiensa dan Terdakwa Silvi Hartanto kehadapan persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sunarso SH, MH di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl. Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (18/6/2019).

Agenda persidangan masih mendengarkan saksi fakta dari JPU. Dan kali ini JPU Maidarlis menghadirkan Saksi Benny (mantan staf terdakwa Advokat Albert Tiensa) untuk didengarkan keterangannya terkait pembuatan surat riwayat tanah yang dipalsukan, sebagaimana dalam dakwaan primer JPU.

Saksi Benny mengakui bahwa dirinyalah yang mengetik surat riwayat tanah palsu itu atas perintah terdakwa Advokat Albert Tiensa. Setelah surat itu jadi, lalu kemudian surat itu dibawah oleh terdakwa Albert Tiensa dan Silvi Hartanto kepada Piping (staf kelurahan) untuk ditandatangani oleh Piping agar seolah bahwa riwayat tanah itu benar bahwa pemilik tanah itu adalah orang Tua dari pada Lina Miranti.

Setelah  berhasil mendapatkan tandatangan dari Piping kemudian Terdakwa Albert Tiensa dan Terdakwa Silvi Hartanto menghadap Camat Kemayoran untuk meminta tandatangan dan stempel Camat Kemayoran.

Menurut Keterangan Camat Kemayoran Bangun, pada persidangan sebelumnya,  Surat yang disodorkan Terdakwa Albert Tiensa dan Silvi Hartanto itu tidak ditandatangani.

Kemudian Saksi Benny menjelaskan bahwa surat riwayat tanah palsu yang ditandatangani Piping yang tidak ditandatangani camat itu dipergunakan  oleh terdakwa Advokat Albert Tiensa menjadi bukti untuk kepentingan pembelaan pada perkara kliennya Lina Miranti yang dijerat perkara pidana.

Dengan adanya surat riwayat tanah palsu itu dimasukkan menjadi bukti oleh terdakwa Albert Tiensa pada perkara Lina Miranti, sehingga Majelis Hakim yang mengadili perkara Lina Miranti menjatuhkan vonis bebas terhadap terdakwa Lina Miranti. Demikianlah rangkaian pernyataan dari saksi Benny menjawab pertanyaan JPU terhadap pembuktian tindak pidana Pasal 263 KUHP yang didakwakan kepada terdakwa Albert Tiensa.

Keterangan saksi Benny ini semakin menguatkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maidarlis dan keterangan saksi Benny itu semakin menempatkan terdakwa Albert Tiensa berada pada posisi sulit untuk mendapat keringanan dari ancaman dakwaan Pasal 263 KUHP, yakni 6 tahun pidana penjara. (Olo)

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz