Jumat, 26 April 2019

limitnews.net

Limit News > Jakarta > Saksi Mengetahui Penyerahan Rp 5 Miliar Berbentuk Dollar Kepada Terdakwa
Posted By: limitnews, 5:08 AM, 9 April 2019

Saksi Mengetahui Penyerahan Rp 5 Miliar Berbentuk Dollar Kepada Terdakwa

Share

limitnews.net

Proses sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Foto Istimewa

JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irfano SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara kembali menghadirkan terdakwa  Permata Nauli Daulay, SH kepersidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Gajah mada, Jakarta Pusat, Senin (8/4/2019).

Kali ini JPU Irfano, SH juga menghadirkan 3 saksi untuk didengarkan keterangannya di persidangan, masing-masing Tonny Alamsyah (saksi mahkota),  Napitu dan Henrry.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim Didik Wuryanto, saksi Tonny Alamsyah mengatakan bahwa dirinya menandatangani kesepakatan perjanjian konsultan itu atas permintaan terdakwa Permata Nauli Daulay.

Menurutnya, dia hanya membantu Permata Nauli Daulay hingga dia mau menandatangani berkas kesepakatan perjanjian konsultan.

“Apa salahnya Majelis kita membantu. Membantu itu baik,” kata saksi Tonny Alamsyah seolah menggurui.

Kalau membantu itu besar pahalanya, kalau menipu itu pidana urusannya, ucap hakim meluruskan pernyataan saksi.

“Saudara saksi,  siapa yang membuat draf surat perjanjian yang anda tandatangani itu?” Tanya Majelis hakim, yang dijawab: “Tidak tahu”.

“Siapa yang menyuruh saksi datang ke hotel Santika Kelapa Gading?,” tanya majelis, yang dijawab: “Saudara terdakwa,”

“Apa yang saksi lakukan di Hotel Santika itu,” tanya majelis, yang dijawab: “Menandatangani surat perjanjian,”.

“Surat perjanjian itu antara siapa dengan siapa?” Tanya majelis, dijawab:”Antara terdakwa  Permata Nauli Daulay dengan Hiendra Soejoto.”

“Saudara saksi Tonny menandatangani surat perjanjian itu kapasitas sebagai apa?” Tanya Majelis, dijawab: “Pengawasan saja.”

“Apa pekerjaan saudara saksi sehari-hari” tanya hakim, dijawab: “Menjual air mineral, dan menjual kue di toko.”

“Pendidikan saudara apa sehingga berjualan kue” tanya Hakim, dijawab: “Sarjana ekonomi.”

“Saudara kenal dengan terdakwa ini dimana?” Tanya Majelis, dijawab: “Saat kuliah ekonomi”

“Saudara saksi lulusan ekonomi berjualan  kue, itu sudah  pas. Tapi kaitannya dengan hukum kepailitan apa? Apakah saudara saksi mengerti tentang kepailitan?” Tanya hakim, yang dijawab: Ngerti sedikit-sedikit.”

“Apa itu sedikit-sedikit? coba jelaskan apa yang saksi tau tentang kepailitan?” Tanya majelis, tapi saksi tidak dijawab.

Majelis hakim dibuat jengkel oleh saksi Tonny Alamsyah. Memberikan keterangan yang berbelit-belit dan tidak jelas arahnya. Bukan pertanyaan yang dijawab. Dia hanya berkata-kata sesuka hatinya. Jika diperhatikan jawabannya itu, seolah sudah ada jawaban yang terkontruksi yang dipersiapkan untuk disampaikan dipersidangan. Padahal faktanya, kontruksi pertanyaan Majelis hakim berbeda, sehingga jawab saksi dengan pertanyaan majelis tidak nyambung.

“Saudara saksi, anda mengatakan bahwa Anda seorang yang berpendidikan sarjana ekonomi. Tapi dari jawaban saudara ini dapat dikatakan saudara tidak mengerti bahasa. Apakah ada seorang sarjana ekonomi tidak mengerti bahasa Indonesia? Saya tahu, memang penipu itu ahlinya menipu. Kalau merayu bahasanya muluk-muluk, korbannya terjerat, tetapi giliran tanggungjawab, pura-pura tidak mengerti. Hakim pun mau ditipu. Hakim ini sudah memeriksa ratusan kasus penipuan, ya, ga jauh beda, begini jawabannya. Saudara kan sudah dihukum dalam perkara ini, jadi tidak ada lagi pengaruh untuk pidananya, disini saudara saksi, katakan sejujurnya peristiwa yang saudara alami,” ucap Ketua Majelis Hakim Didik Wuriyanto, mengingatkan saksi Tonny Alamsyah.

Saksi Tonny Alamsyah ini sudah divonis 2 tahun 4 bulan pidana penjara satu perkara dengan terdakwa Permata Nauli Daulay yang didakwa dengan berkas terpisah (split). Dia dihadirkan kepersidangan sebagai saksi karena dia salah satu yang menandatangani surat perjanjian.

Keterangannya di BAP dengan keterangan dipersidangan  tidak sama. Padahal waktu sebelum diperiksa dipersidangan Majelis hakim terlibih dahulu bertanya: “Saudara saksi, apakah tandatangan di BAP ini tandatangan saksi?” Dijawab: ya. “Apakah saudara dipaksa menandatangani?” Dijawab: tidak.

Ketika ditanya terkait transaksi uang Rp 10 miliar yang diterima terdakwa Permata Nauli Daulay dari saksi Hiendra Soejoto, saksi Tonny Alamsyah mengaku tidak tahu menahu.

Bahkan uang Rp 30 juta yang diterima dari saksi Hiendra Soejoto yang juga diakui di BAP, dibantah. Bahkan dia mengatakan tidak pernah terima uang dari terdakwa Permata Nauli Daulay. Padahal dalam BAP dia sudah menerima Rp 300 juta dari terdakwa Permata Nauli Daulay sebagai jasa.

Bahkan dalam BAP itu, saksi merinci uang yang diterima itu dipergunakan: untuk membeli Mobil, Bayar Utang dan jalan-jalan keluar Negeri.

Bahkan saat ada panggilan polisi sebagai saksi, saksi Tonny Alamsyah menghindari dan sempat melarikan diri keluar negeri.

“Mengapa anda melarikan diri keluar negeri?” “
Tanya hakim, dijawab: “Takut karena salah.”

Sementara saksi Napitu menjelaskan hadir di Hotel Santika Kelapa Gading sebagai kuasa hukum saksi pelapor Hiendra Soejoto, diundang untuk hadir menyaksikan kesepakatan perjanjian konsultan. Namun dia mengaku tidak faham redaksi perjanjian. Dia mengaku melihat ada cek tapi dia mengaku tidak melihat siapa yang menerima cek itu.

Sementara saksi Tonny Alamsyah mengakui melihat cek senilai Rp 1,5 miliar. Tapi cek itu tidak bisa dicairkan karena dananya kurang. Namun akhirnya cek itu ditarik saksi Hiendra Soejoto dan diganti dengan uang tunai.

Saksi Napitu mengaku tidak terlalu mengerti tantang transaksi uang. Adapun dia mengetahui adanya uang Rp 10 miliar yang diberikan kepada terdakwa Permata Nauli Daulay atas pemberitahuan saksi Hiendra Soejoto.

Kemudian saksi Henry mengatakan pernah menemani saksi Hiendra Soejoto dan saksi Wisnu mengambil uang dollar senilai Rp 5 miliar ke money changer di Glodok. Kemudian menyaksikan Hiendra Soejoto memberikan uang itu diparkir Hotel Sunlike Sunter kelapa gading, setelah terlebih dahulu bertemu di restauran hotel Sunlike.

“Saya naik di mobil pak Hiendra Soejoto, kemudian beliau (Hiendra) turun dari mobil dan mengatakan kepada saya akan memberikan uang itu ke Permata Nauli Daulay. Dan saya melihat saksi Hiendra membawa bungkusan yang dari manoy changer itu dan memasuki mobil terdakwa Permata Nauli Daulay diparkiran hotel,” ucap Henry.

Ketika ditanya hakim mengapa penyerahan uang itu di parkiran mobil, mengapa tidak saat bertemu di restauran? Saksi Henry menjawab tidak mengerti.

Tetapi saat dikonfirmasi wartawan, dia mengatakan bahwa alasan uang itu diserahkan dimobil karena uang itu dihitung di mobil. “Ngga mungkinlah uang itu dihitung di restoran,” ucap Henry menegaskan.

“Sebenarnya, yang mana berawal adanya perjanjian kesepakatan kerja antara saksi Hiendra Soenjoto dengan Tonny Almansyah. Namun pada akhirnya yang menerima uang untuk kesepakatan itu adalah terdakwa Permata Nauli Daulai,” ujar saksi Hiendra.

Terhadap keterangan saksi itu, terdakwa Permata Nauli Daulay mengatakan membantah menerima uang Rp 5 miliar berbentuk dollar. Tapi dia mengakui telah menyerahkan kwitansi tanda Terima uang Rp 5 miliar kepada saksi Hiendra Soejoto. (Olo)

 

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz