Sabtu, 19 Oktober 2019

limitnews.net

Limit News > Jakarta > Saling Menjatuhkan, Kedua Terdakwa Ingin Lepas dari Jeratan Hukum
Posted By: limitnews, 6:32 AM, 3 Juli 2019

Saling Menjatuhkan, Kedua Terdakwa Ingin Lepas dari Jeratan Hukum

Share

limitnews.net

Proses persidangan di PN Jakarta Pusat. Foto Tomson

JAKARTA – Saat membuat surat palsu itu mereka sepakat sehati sepikir saling mendukung. Begitu masuk dalam perkara hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mereka saling meninggalkan bahkan mereka saling menjatuhkan karena mungkin ingin melepaskan diri dari hukuman berat atas tanggungjawab perbuatannya.

Demikianlah yang terjadi pada Sidang lanjutan perkara terdakwa I Silvi Hartanto dan terdakwa II Advokat Albert Tiensa yang digelar di pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl. Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2019).

Dihadapan persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sunarso, SH terdakwa Silvi Hartanto dan terdakwa Albert Tiensa mengulangi pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maidarlis, SH, MH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, pertanyaan yang telah dilontarkan kepada Saksi Piping Muliadi Pribadi seolah mereka ingin meyakinkan hakim dan jaksa, bahwa apa yang diperankan masing-masing dalam penyodoran penandatanganan surat kesepakatan riwayat tanah dan bangunan (yang dipalsukan itu) kepada saksi Piping Muliadi Pribadi untuk ditandatangani itu bukanlah peran mereka. Atau mungkin ingin menghindari sanksi hukum yang akan dijatuhkan.

Kepada JPU Maidarlis, Piping Muliadi Pribadi mengatakan menandatangani surat pernyataan kesepakatan riwayat tanah dan bangunan ( SHM an Sinta Hartanto)  di Jl. Kepuselatan, Kel. Kemayoran, Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat pada tahun 2016 yang disodorkan terdakwa I Silvi Hartanto dan terdakwa II Advokat Albert Tiensa di Kelurahan Paseban, pada saat dia menjadi staf di Kelurahan Paseban, Jakarta Pusat

Piping mengatakan yang menyodorkan surat untuk ditandatangani itu adalah terdakwa Albert Tiensa setelah memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum Lina Miranti, bibinya Silvi Hartanto.

“Disaat saya membaca poin satu, surat yang disodorkan itu, terdakwa Albert Tiensa dan terdakwa Silvi Hartanto berbicara, sehingga saya tidak memperhatikan lagi isi poin kedua surat itu dan selanjutnya, dan saya  menandatangani. Itu kelalaian saya,” ujar Saksi Piping.

Kemudian JPU Maidarlis bertanya posisi kedua terdakwa pada saat menyodorkan surat itu. Apakah terdakwa Albert Tiensa yang lebih dekat? Yang dijawab: yang menyodorkan adalah Albert Tiensa sementara Silvi Hartanto posisinya lebih jauh. Begitu juga dengan kata-kata yang terucap  dalam pertemuan itu didominasi perkataan Albert Tiensa, kata Piping.

Kemudian JPU Maidarlis bertanya: berapa kali terdakwa Albert Tiensa dan terdakwa Silvi Hartanto mendatangi anda? Yang dijawab: terdakwa Albert Tiensa baru pertama kali datang, yakni saat menyodorkan surat yang ditandatangani. Namun untuk terdakwa Silvi Hartanto sudah pernah bertemu dan pertemuan itu di Kelurahan Kemayoran, Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat, pada tahun 2015. Dan berdasarkan sudah pernah ketemuan itulah katanya dia langsung menandatangani surat itu meskipun belum membaca poin kedua dan selanjutnya. Karena pada poin pertama itu menyingg pertemuan sebelumnya di kelurahan Kemayoran, jelas Piping.

Dalam rangka apa pertemuan di Kelurahan Kemayoran itu? Tanya JPU, yang dijawab: pertama kali datang terdakwa Silvi Hartanto di Kelurahan Kemayoran pada tahun 2015, lupa tanggal dan bulannya untuk minta difasilitasi musyawarah keluarga, ahli waris rumah dan bangunan SHM an Shinta Hartanto.

Waktu itu saksi Piping Muliadi masih bekerja di Kel. Kemayoran, Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat sebagai Kepala Seksi Pemerintahan. Piping bekerja di Kelurahan kemayoran dari tahun 2010-2015, lalu dimutasi ke Kel. Paseban menjelang akhir tahun 2015  sampai dia dipidana 1,5 tahun penjara. Namun saat ini Piping Muliadi Pribadi sudah tidak PNS lagi.

Saksi Piping mengatakan pertemuan sebelumnya adalah mediasi yang dipimpin langsung oleh Lurah Kemayoran, Bangun. Dalam pertemuan itu datang 6 orang ahli waris untuk musyawarah tentang tanah dan bangunan di Jl. Kepuselatan SHM an Shinta Hartanto.

Hasil musawarah Ahli Waris yang ditandatangani para Ahli Waris dan juga Lurah Kemayoran, Bangun, Babinsa Pol, Babinsa Koramil dan juga Piping Muliadi Pribadi itu menjadi 6 orang ahli waris atas tanah dan bangunan yang terletak di Jl. Kepuselatan (SHM an Shinta Hartanto) dan dalam surat itu disebutkan bahwa tanah dan bangunan itu merupakan warisan almarhum Herman Hartanto (Kakek Ahli Waris atau Orangtua dari Shinta Hartanto).

Padahal, sesuai dengan SHM an Shinta Hartanto itu ahli waris hanya 4 orang yakni Rifan Hartanto sebagai anak Sulung dan adiknya  laki-laki kemudian dua anak perempuan yakni Silvia Hartanto dan Silvi Hartanto yang merupakan anak kandung almarhum Shinta Hartanto.

Pada sidang sebelumnya, pada saat pemeriksaan saksi Lurah Kemayoran, Bangun, terungkap bahwa terdakwa Advokat Albert Tiensa dan terdakwa Silvi Hartanto menemui Lurah Kemayoran, Bangunan untuk meminta tandatangan Lurah, Setelah Piping Muliadi Pribadi menandatangani surat itu, tetapi lurah menolak untuk menandatangani surat itu.

“Mengapa pada saat musyawarah para ahli waris datang semua, tetapi sekarang datang sendiri? (Silvi Hartanto ahli waris didampingi Albert Tiensa). Undang semua ahli waris baru kita tandatangani,” ucap Lurah Bangun kepada Albert Tiensa. Akhirnya Albert Tiensa dan Silvi Hartanto pulang tanpa mendapat tandatangan Lurah.

Namun demikian walaupun surat itu tidak ditandatangani lurah, surat itu tetap dipergunakan terdakwa Albert Tiensa untuk kepentingan pembelaan kliennya Lina Miranti di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Surat itu diserahkan kepada Majelis Hakim yang mengadili perkara terdakwa Lina Miranti saat itu dan oleh majelis hakim ditambahkan sebagai bukti yang meringankan terdakwa Lina meranti. Atas adanya surat yang ditandatangani Piping Muliadi Pribadi itu menjadi bukti dipersidangan, maka putusan hakim menjadi onslah. Terdakwa Lina Miranti terbebas dari hukuman pidana.

Piping Muliadi menjelaskan bahwa awalnya dia tidak tahu untuk apa surat itu digunakan oleh Alber dan Silvi. Baru setelah ada surat dipanggil dari Polda Metro Jaya dan Piping dipanggil sebagai saksi barulah dia mengetahui bahwa surat itu dipergunakan untuk menjadi bukti buat perkara pidana terdakwa Lina Miranti dan Advokat Albert Tiensa sebagai kuasa hukumnya. Piping baru sadar kalau dirinya telah menandatangani surat keterangan yang isinya tidak benar.

Piping menjelaskan, bahwa setelah selesai diperiksa penyidik Polda Metro Jaya, Piping Muliadi Pribadi menemui Lurah Kemayoran, Bangun. Dan atas nasehat lurah Bangun, Piping Muliadi Pribadi membuat surat pernyataan bahwa surat pernyataan yang ditandatangani itu tidak benar adanya tertanggal 7 September 2016, Dan dalam surat bantahan itu Piping menyebutkan bahwa isi surat pewaris tanah dan bangunan SHM an Shinta Hartanto itu adalah almarhum Herman Hartanto sama sekali tidak diketahuinya.

Dan atas surat bantahan Piping itu, penyidik Kepolisian Polda Metro Jaya menetapkan Piping Muliadi Pribadi menjadi tersangka dan akhirnya dijatuhi vonis 1,5 tahun pidana penjara. Kini giliran keberanian Advokat Albert Tiensa diuji. Apakah Albert Tiensa berani menghadapi ancaman pidana Pasal 263 KUHP? (Olo)

 

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz