Sabtu, 20 Juli 2019

limitnews.net

Limit News > Jakarta > Zaiman: Waktu Itu Rudiono Dicurigai Ijazah Palsu
Posted By: limitnews, 4:21 AM, 11 April 2019

Zaiman: Waktu Itu Rudiono Dicurigai Ijazah Palsu

Share

limitnews.net

Proses persidangan UNTAG 1945. Foto Tomson

JAKARTA – Penasehat hukum terdakwa Tedja Wijaya, Silitonga menghadirkan dua saksi ade Carge (meringankan) kehadapan persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Didik Wuriyanto, SH, yakni Saksi Zaiman Zaini dan Boy Tarliman.

Dihadapan persidangan Zaiman Zaini mengakui ada dualis kepemimpinan Yayasan UNTAG  1945 antara Prof. Thomas dan Rudiyono Darsono sejak tahun 2010-2015.

Pertanyaan yang dilontarkan Silitonga terkait adanya demo. “Saudara saksi, apakah saat diadakan demo oleh alumni UNTAG dan para dosen termasuk ijazah palsu saudara Rudiono Darsono?” Yang dijawab: ‘Ya’.

“Saya dipecat sebagai dosen Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) pada tahun 2013 oleh Rudiyono Darsono karena saya,  Bambang Prabowo dan sejumlah alumni dan mahasiswa melakukan demo. Termasuk dugaan Ijazah Palsu  saudara Rudioni Darsono. Kami mengharapkan agar Yayasan UNTAG kembali kepada yang berhak,” Kata saksi Zaiman.

Menurut saksi bahwa Prof. Thomas menjadi Ketua Yayasan UNTAG dimulai dari alumni dan tenaga pengajar di Untag, hingga menjadi Ketua Yayasan, dan Sampai ketua Dewan Pembina. Tetapi Rudiono Darsono ada di Untag langsung menjadi direktur dan kemudian menjadi Ketua Dewan Pembina

Zaiman mengatakan, bahwa dualisme  kepemimpinan itu terbukti dari adanya dua akta notaris kepengurusan Yayasan Untag, yakni akta notaris yang dipegang prof Thomas ditandatangani oleh Dirjen AHU sementar akta notaris yang dipegang oleh Rudiyono Darsono disahkan oleh Direktur AHU.

Dan menurut Zaiman sejak dari  awal berdirinya Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta namanya adalah UNTAG dan setelah pada kepengurusan Rudiono Darsono UNTAG diganti menjadi UTA’45.

Zaiman Zaini mengatakan bahwa kepemimpinan Rudiono Darsono adalah kepemimpinan otoriter, yang melakukan tindakan pemecatan dengan sewenang-wenang terhadap dosen dan mahasiswa dan karyawan yang dianggap bertentangan dengan keinginannya.

“Akibat  kepemimpinan itulah kami melakukan demo Tahun 2013, dan banyak dosen dan karyawan yang dipecat. Hingga Prof. Thomas meninggal dunia perjuangan untuk mengembalikan Yayasan kepada yang semula gagal. Dan yang paling aktif waktu itu adalah saya dan saudara Bambang Prabowo. Makanya saya pun heran, mengapa pak Bambang Prabowo yang berjuang bersama saya dan Prof. Thomas beralih dukungan,” katanya.

Zaiman memaparkan  bahwa dalam perjuangannya untuk mengembalikan Yayasan kepada Prof. Thomas sampai ke Kumham, PDIP dan Golkar adalah Bambang Prabowo. Dan Prabowo lah mempresentasikan di Kumham dan kepada anggota dewan dan Komnas Ham.

Penasehat hukum terdakwa Silitonga juga menunjukkan sejumlah foto dihadapan persidangan dan Zaiman menunjuk kepada gambar Bambang Prabowo yang ada pada setiap pertemuan itu. Baik di KUMHAM maupun di praksi partai Golkar dan PDIP.

Terkait pembangunan gedung 8 lantai, Zaiman mengatakan bahwa tahun 2012 sudah ada. “Bangunan gedung 8 lantai itu sudah ada, dan saya masih sempat mengajar di ruangan kelas gedung 8 lantai itu. Karena saya dipecat tahun 2013,” ungkap Zaiman.

“Apakah pernyataan anda ini benar? Soalnya saksi Bambang Prabowo bilang bahwa gedung baru ada tahun 2014. Apakah saudara tetap pada keterangan anda?” tanya hakim, yang dijawab: “tetap”.

Terdakwa Tedja Wijaya tidak keberatan atas keterangan saksi.

Saksi kedua Boy Tasliman sebagai Direktur Proyek pada PT. Catur Bangun Mandiri (CBM) selaku pelaksana pembangunan Gedungan 8 lantai  Kampus UTA’45 mengatakan dia bekerja sebagai direktur proyek sejak tahun 1993 sampai dengan 2017 di PT. CBM. Dan saat pelaksanaan pembangunan  gedung 8 lantai Kampus UTA’45  dia menjabat Direktur Proyek.

PT CBM mendapat pekerjaan dari PT. Graha Mahardhika untuk pembangunan 8 lantai Kampus UTA’45, dengan total biaya 31 miliar yang dikerjakan mulai Januari 2010 sampai dengan Januari   2012. Dan penagihan jaminan pemeliharaan sekitar bulan Juli 2012.

Menurutnya tahun 2012 itu gedung langsung dipergunakan sebagai ruang perkuliahan. Terkait adanya komplin dari owner semuanya sudah dilaksanakan, sebagaimana mestinya, katanya.

“Terkait progres pekerjaan seingat saya ada 13 tahap pembayaran. Dan yang membayar adalah PT. Graham Mahardika yang terdiri dari dua SPK. SPK I Rp. 8 miliar, dan SPK ke dua Rp.12 miliar dan jumlahnya Rp.17 miliar. Pekerjaan dingding 3 miliar Hinga mencapai Rp.20 miliar. Baru kemudian pada pekerjaan pengadaan AC, Lift, mekanikal dan Genset Rp.11 miliar, jadi totalnya 31 miliar,” ucap Boy.

Ketika ditanya apakah ada serah terimanya dari PT CBM ke Yayasan UTA’45, yang dijawab tidak ada.

Ketika ditanya persyaratan bukti selesainya sebuah pekerjaan pembangunan gedung, Boy mengatakan bahwa pembanguan swasta tergantung, tetapi pada umumnya di proyek pemerintah selalu ada serah terimanya.

“Kita membangun gedung UTA’45 seluas 8500 M2. Dan setalah gedung ditempati itulah secara resmi serahterima,” kata Boy Tasliman. (Olo)

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz