Aman OTT Kota Bekasi, Bos Summarecon Ditahan OTT Yogyakarta




Vice President Real Estate PT Summarecon Agung (SA) Tbk Oon Nusihono (paling kanan) bersama tiga tersangka lainnya memakai rompi oranye. Limitnews/Istimewa

06/05/2022 13:36:39

BEKASI – Aman dari kasus operasi tangkap tangan (OTT) di Kota Bekasi, Vice President Real Estate PT Summarecon Agung (SA) Tbk Oon Nusihono (ON) tak aman pada kasus OTT Wali Kota Yogyakarta. Pasalnya, Oon Nusihono ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kasus dugaan suap terkait dengan perizinan pendirian bangunan apartemen di wilayah Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta.

Selain Oon, KPK juga menetapkan tiga tersangka lainnya yaitu mantan Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti (HS), Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Pemkot Yogyakarta Nurwidhihartana (NWH), Triyanto Budi Yuwono (TBY) selaku sekretaris pribadi merangkap ajudan Haryadi.

BERITA TERKAIT: Direktur Summarecon Mangkir, Tersangka Rahmat Effendi Diduga Suruh Anak Buah Tukar Uang Asing

BERITA TERKAIT: KPK Panggil Direktur Summarecon Terkait Kasus Pencucian Uang Rahmat Effendi

Sebelumnya, Vice President Real Estate PT Summarecon Agung (SA) Tbk Oon Nusihono sempat diperiksa KPK terkait kasus OTT di Pemkot Bekasi, namun Oon Nusihono ditetapkan sebagai tersangka.

"Agar penyidikan dapat efektif, tim penyidik melakukan upaya paksa penahanan pada para tersangka untuk masing-masing selama 20 hari pertama dimulai sejak 3 Juni sampai dengan 22 Juni 2022," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, Jumat (3/6/2022).

Oon ditahan di Rutan KPK pada Kavling C1, Haryadi di Rutan KPK pada Gedung Merah Putih KPK, Nurwidhihartana di Rutan Polres Jakarta Pusat, dan Triyanto di Rutan KPK pada Pomdam Jaya Guntur.

Dalam konstruksi perkara, Alex menjelaskan bahwa pada tahun 2019, Oon melalui Dandan Jaya K selaku Dirut PT Java Orient Property (JOP) mengajukan permohonan IMB mengatasnamakan PT JOP untuk pembangunan apartemen Royal Kedhaton di kawasan Malioboro dan termasuk dalam wilayah cagar budaya ke Dinas Penanaman Modal dan PTSP Pemkot Yogyakarta. PT JOP adalah anak usaha dari PT SA Tbk.

"Proses permohonan izin kemudian berlanjut pada tahun 2021 dan untuk memuluskan pengajuan permohonan tersebut, ON dan Dandan Jaya diduga melakukan pendekatan dan komunikasi secara intens serta kesepakatan dengan HS yang saat itu menjabat selaku Wali Kota Yogyakarta periode 2017-2022," ujar Alex.

BACA JUGA: Selain Rp 10 Miliar dari Pengadaan Lahan, Mantan Walkot Bekasi Juga Didakwa Raup Rp 7,1 Miliar dari Setoran ASN

BACA JUGA: Dijerat Pasal Berlapis, Mantan Wali Kota Bekasi Didakwa Terima Suap Rp 10 Miliar

KPK menduga ada kesepakatan antara ON dan HS, antara lain, HS berkomitmen akan selalu "mengawal" permohonan izin IMB tersebut dengan memerintahkan Kadis PUPR untuk segera menerbitkan IMB dan dilengkapi dengan pemberian sejumlah uang selama pengurusan izin berlangsung.

Selama penerbitan IMB itu, diduga terjadi penyerahan uang secara bertahap dengan nilai minimal sekitar Rp 50 juta dari Oon untuk HS melalui TBY dan juga untuk NWH.

Pada tahun 2022, kata Alex, IMB pembangunan apartemen Royal Kedhaton yang diajukan PT JOP akhirnya terbit, kemudian pada hari Kamis (2/6), Oon datang ke Yogyakarta untuk menemui HS di rumah dinas jabatan wali kota dan menyerahkan uang sekitar 27.258 dolar AS yang dikemas dalam goodie bag melalui TBY sebagai orang kepercayaan HS dan sebagian uang tersebut juga untuk NWH.

Selain penerimaan tersebut, KPK juga menduga HS menerima sejumlah uang dari beberapa penerbitan IMB lainnya. Hal itu, kata dia, akan didalami oleh tim penyidik.

Sebagai penerima, Haryadi dan kawan-kawan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, Oon Nusihono sebagai pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Penulis: Herlyna/Olo Siahaan

Category: Bekasi, NASIONAL
limitnews
No Response

Comments are closed.