Badiklat Kejaksaan RI Akan Kembangkan VR Dalam Mengajar PPPJ

Kabdiklat Kejaksaan RI Tony Spontana saat memperagakan VR sebagai Ketua Majelis Hakim. Limitnews.net/Martini

JAKARTA - Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan Republik Indonesia akan mengembangkan perangkat virtual reality (VR) dalam proses belajar dan mengajar Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) di Badiklat Kejaksaan RI khususnya dalam proses pembelajaran praktik sidang atau simulasi sidang pengadilan tahun 2021.

Uji coba perangkat VR untuk simulasi sidang diperagakan langsung Kepala Badiklat Kejaksaan RI Tony Tribagus Spontana , SH,MH di Kampus A, Badiklat Kejaksaan RI Ragunan Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2021)

Dalam simulasi, Kepala Badiklat Kejaksaan RI yang bertindak sebagai Ketua Majelis Hakim duduk di deretan kursi hakim dengan kedua mata tertutup ‘kacamata’ yang biasanya digunakan untuk main game online. Masing-masing tangannya memegang perangkat berwarna gelap yang terhubung dengan ‘kacamata’ melalui seutas kabel.

”Sidang dalam perkara perbuatan tidak menyenangkan saya buka dan dibuka untuk umum,” ujar Tony Spontana dan tangan kanannya bergerak naik turun sebanyak tiga kali yang diiringi bunyi meja diketuk, "tok, tok, tok" seolah mengetukkan palu pertanda sidang dibuka.

Di dalam ruangan tersebut, terdapat layar yang menampilkan gambar ruang sidang pengadilan lengkap dengan atribut-atributnya seperti bendera merah putih dan bendera pengadilan. Sementara di sisi lain, terdapat tempat duduk untuk Jaksa Penuntut Umum, Penasihat Hukum maupun Terdakwa yang duduk dengan mengenakan perangkat serupa dengan yang di kenakan Kepala Badiklat sehingga gerakan maupun ucapan yang dilakukan akan tampil sama dengan yang nampak di layar monitor.

Kabadiklat Tony Spontana mengungkapkan Teknologi VR yang biasanya digunakan main game online, menghadapi kendala akibat pandemi Covid-19, teknologi ini dapat digunakan untuk menjalankan proses simulasi persidangan pengadilan di Badiklat Kejaksaan RI guna mendukung upaya pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi penyebaran  dan penularan Covid-19 yang semakin masif.

"Teknologi ini akan diterapkan dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa atau PPPJ tahun 2021 untuk menekan proses pendidikan yang mengharuskan tatap muka seperti mata pelajaran praktik persidangan. Dimana selama ini, penyelenggaraan diklat untuk sementara dilaksanakan dengan sistem kombinasi antara virtual dan tatap muka secara terbatas. Maka dengan adanya perangkat dan teknologi virtual reality (VR) ini, simulasi persidangan dapat dilakukan secara virtual dan tidak lagi tatap muka," ujar Kepala Badiklat.

Sementara itu peserta Diklat yang tidak terlibat langsung (hanya sebagai penonton sidang) bisa mengakses persidangan melalui Android.

Tony Spontana menyebut Teknologi ini juga sangat memungkinkan untuk diterapkan dalam persidangan yang sebenarnya (dimana selama ini sudah dilaksanakan secara virtual namun dengan sistem video conference).

Selain itu, sistem ini juga dapat digunakan untuk memenuhi syarat hukum acara pemeriksaan persidangan. Munculnya ide ini karena adanya kendala dalam proses simulasi persidangan.

“Melalui VR, dibuat ruang persidangan di mana orang bisa bertemu dengan orang lain secara virtual. Ternyata penggunaan VR memenuhi syarat kediklatan, yaitu ilmu atau materi bisa disampaikan sempurna,” kata Tony Spontana.

Menurutnya Perangkat simulasi persidangan ini akan dapat diterapkan di 33 Kejaksaan Tinggi (Kejati) di seluruh Indonesia, dimana akses internet yang relatif baik sehingga memungkinkan untuk diterapkan perangkat dan teknologi ini.

"Setiap Kejati akan memerlukan 10 perangkat VR, sementara di Badiklat Kejaksaan RI akan dipasang 20 perangkat beserta sistem manajemen pembelajaran dengan total biaya diperkirakan mencapai Rp 22 miliar sampai Rp 24 miliar," ujar Kabdiklat melalui Kapuspenkum Kejagung RI Leonard Eben Ezer Simanjuntak SH MH yang diterima redaksi, Senin (1/2/2021). (Tini/Tom)

Share
Category: Jakarta

limitnews
No Response

Comments are closed.