Dinilai Terlantarkan Perkara, Hakim Peringatkan JPU Teddy

255

limitnews.net

JPU Teddy, SH saat membacakan Surat tuntutan terdakwa Assegaff di PN Jakarta Utara, Senin (9/8/2021). Limitnews.net/Tomson

JAKARTA - Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Djuyamto SH, MH memperingatkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Teddy, SH agar serius dalam menangani perkara terdakwa Abdullah Nizar Assegaf dan bahkan mempertanyakan apakah proses persidangan dilanjutkan atau distop saja.

“Saudara Jaksa, bagaimana kelanjutan perkara ini?" tanya Djuyamto di PN Jakarta Utara, Jln. Gajah Mada, No.17, Jakarta Pusat, Senin (9/8/2021). Lebih jauh hakim menyampaikan bahwa perkara kasus penipuan itu sudah cukup lama namun Surat tuntutan belum kunjung dibacakan.

“Sudah delapan bulan atau sejak Januari 2021 sudah kita sidangkan ini, tetapi belum juga tuntas. Kami ada batas-batas proses persidangan,” tambah Hakim Djuyamto yang juga Humas PN Jakarta Utara itu.

“Maaf Pak Hakim, penasihat hukumnya meninggal (Tonin Singarimbun), saya sendiri sempat Covid-19. Maka jadi tertunda-tunda persidangan kasus ini,” jawab JPU Teddy mengungkapkan alasannya.

“Lha, bukannya ada jaksa pengganti? Katanya, jaksa itu satu, dan di dalam berkas pun ada kami lihat jaksa pengganti, dua orang malah.  Lagi pula sampai saat ini majelis hakim belum mendapatkan surat kematian pengacara terdakwa,” ujar Djuyamto mempertanyakan alasan jaksa yang diangkat tidak logis.

“Ada memang jaksa penggantinya majelis, tetapi tidak pada mau menyidangkan kasus ini Pak Hakim dengan alasan: kasus ini agak rumit pembuktiannya, jadi jaksa pengganti enggan bersidang,” tutur Teddy.

Akhirnya pembacaan Surat tuntutan dilakukan Teddy, SH, MH setelah hubungan virtual tersambung kepada terdakwa Abdullah Nizar Assegaf.

Sebelum JPU membacakan surat tuntutannya, Ketua Majelis Hakim Djuyamto terlebih dahulu bertanya kepada terdakwa: apakah sudah menunjuk pembela atau menghadap sendiri tanpa penasihat hukum. “Saya maju sendiri Pak Hakim,” ujar Abdullah Nizar menjawab pertanyaan hakim yang disidangkan secara online itu.

“Terdakwa Abdullah Nizar Assegaf terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebagimana diatur dan diancam dalam Pasal 378 KUHP, yang merugikan saksi korban Deepak Chugani. Atas tindak kejahatan tersebut, kami menjatuhkan menuntut selama tiga tahun penjara, terhadap terdakwa,” ujar Teddy saat membacakan tuntutannya.

Menurut Teddy, tuntutan itu dijatuhkan setelah mempertimbangkan keterangan saksi-saksi yang terungkap dipersidangan. "Karena tidak ada pemaaf atau penghapusan atas pidana itu maka kami harus menjatuhkan tututan dan menjatuhkan hukuman itu," tambah Teddy.

Terdakwa Abdullah Nizar Assegaf nyaris tidak bereaksi apa-apa dengan tuntutan yang cukup berat tersebut. Dia hanya meminta kepada majelis hakim agar memberinya waktu selama sepekan untuk mempersiapkan pledoi.

“Saya akan membuat pembelaan sendiri secara tertulis Pak Hakim Yang Mulia,” kata terdakwa Abdullah Nizar Assegaf. Majelis hakim setuju. Demikian pula JPU Teddy. Maka persidangan selanjutnya dengan agenda pembacaan pembelaan akan dilangsungkan pekan depan.

Yang menjadi sorotan wartawan adalah pesan dan pertanyaan Hakim Djuyamto terkait jaksa itu satu dan perkara dapat diwakilkan kepada teman-teman nya. Jadi tidak cukup ideal juga jawaban JPU Teddy yang beralasan sempat kena Covid-19 sehingga perkara yang ditangani terbengkalai, karena faktanya, satu jaksa bisa menyidangkan 10 perkara sehari dan itu adalah perkara titipan.

Yang menjadi agak ganjil dari jawaban JPU Teddy itu adalah jika seandainya perkara dari Jaksa Kejagung atau Kejati wajarlah disidangkan jaksa wilayah, tetapi yang terjadi sekarang ini adalah sesama jaksa wilayah titip sidang perkara nya sehingga proses persidangan dianggap tidak maksimal dalam membuat Surat tuntutan. Artinya surat tuntutan langsung Copi paste dari surat dakwaan karena memang jaksa tersebut tidak mengetahui keterangan saksi-saksi yang terungkap dipersidangan, disebabkan titip sidang tersebut.

Mungkin proses titip sidang itu harus dievaluasi atau dalam hal tertentu bolehlah, janganlah main titip-titip dengan maksud tertentu.

 

Penulis: Tomson

Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.