Eksekutor Pembunuh Bos Pelayaran di Kelapa Gading Terancam Hukuman Mati

Sidang pembacaan dakwaan terdakwa Mahfud dan Syahrul di PN Jakut, Rabu (24/2/2021). Limitnews.net/Martini

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Iqram Saputra, SH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta  menghadapkan eksekutor pembunuhan bos pelayaran Sugianto (51), terdakwa Syahrul dan Mahfud secara virtual kehadapan persidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Rabu (24/2/2021) pekan lalu.

Kedua terdakwa (Syahrul dan Mahfud) dihadirkan ke persidangan pimpinan Ketua Majelis Hakim Taufan Mandala, SH, MH untuk mendengarkan pembacaan surat dakwaan JPU terkait pembunuhan Sugianto di Ruko Royal Scuard Kelapa Gading Jalan Pegangsaan II, Jakarta Utara, 13 Agustus 2020.

Menurut JPU Iqram Saputra, terdakwa Mahfud (MD) dan Syahrul (SY) menghabisi Sugianto atas permintaan saksi Nur Luthfi (NL) (terdakwa dengan berkas terpisah).

Saksi Nur Luthfi berencana menghabisi nyawa alm Sugianto (Bos salah satu agen pelayaran) karena bosnya itu (Sugianto) mulai mengetahu bahwa dia telah menggelapkan pajak perusahaan sejak tahun 2015.

Saksi Nur Luthfi sejak dari tahun 2015 di bagian administrasi keuangan banyak ngurusin pajak-pajak, ternyata tidak semua disetorkan ke kantor pajak. Setelah korban (Sugianto) mengetahui hal itu maka dia meminta pertanggungjawab Nur Luthfi bahkan mengancamnya akan dilaporkan kepolisi.

Karena ketakutannya terhadap ancaman bosnya akan dilaporkan kepolisi, akhirnya dia nekat mencari pembunuh bayaran. Lalu Nur Luthfi meminta saksi Rosidi mencarikan orang yang bisa membunuh Sugianto.

Untuk menarik simpati dari Rosidi, Nur Luthfi membuat cerita seolah korban Sugianto melecehkan dirinya dan sering mengajak hubungan suami istri yang diluar tugasnya sebagai karyawan. Atas skenario yang dibuat saksi Nur Luthfi itu, Rosidi merasa prihatin dan akhirnya dia menemui kenalannya bernama Mahfud.

Rosidi menghubungi terdakwa Mahfud sebagai eksekutor. "Pak Mahfud mau tidak bunuh orang," ujar Rosidi kepada Mahfud.

Mahfud awalnya menolak dengan alasan sudah bertobat.  Namun, Rosidi tetap merayunya dengan menyebut adanya perintah dari tersangka Maman yang tak lain suami siri dari Nur Luthfi.

Kepada Mahfud, Rosidi juga menyebut Maman merupakan sosok yang melanjutkan perjuangan Eyang Nur, ayah dari Nur Luthfi.

Karena pembicaraan itu, Mahfud mempertimbangkan permintaan agar dirinya menjadi eksekutor. Dan Mahfud dibayar Rp 200 juta.

Terdakwa Mahfud (eksekutor) dan Syahrul (Joki) berangkat menuju tempat kerja korban (Sugiarto) di Ruko Royal Gading Square, Jl. Pegangsaan II, Kec. Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sebelum melakukan aksinya mereka terlebih dahulu mengamati-amati Lokasi.

Hari itu (13/8/2020) Mahfud dan Syahrul menunggu pukul 12.30 WIB, keduanya melihat korban keluar dari kantornya untuk makan siang ke rumahnya dan disitulah terjadi penembakan. Korban ditembak dari arah belakang sebanyak lima kali oleh Mahfud hingga korban tewas di lokasi kejadian.

Atas perbuatannya, JPU Iqram Saputra mendakwa kedua terdakwa dengan Pasal 340 KUHP, Jo Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati. Untuk diketahui, dalam perkara tersebut ada 12 terdakwa disidangkan terpisah (splitsing). (Tini/Tom)

Share
Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.