Jaksa Dakwa Permata Nauli Daulay Menipu Rp 10 Miliar

764

limitnews.net

Terdakwa saat dihadirkan ke persidangan. Foto Tomson

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irfano SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara kembali menghadirkan terdakwa  Permata Nauli Daulay, SH kepersidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Gajah mada, Jakarta Pusat, Selasa (2/4/2019), setelah pada persidangan sebelumnya, Majelis Hakim menolak eksepsi (keberatan)nya atas dakwaan JPU, dan dilanjutkan dengan acara pemeriksaan saksi-saksi.

JPU Irfano, SH menghadirkan 3 saksi untuk didengarkan keterangannya dipersidangan, masing-masing Hiendra Soenjoto (pelapor) Hengky Soenyoto (yang mentransfer uang) namun yang sempat diperiksa hanya 2 saksi. Majelis mengatakan akan memeriksa saksi lainnya pada persidangan, Kamis (4/4/2019).

Dihadapan Ketua Majelis Hakim Didik Wuryanto, saksi Hiendra Soenjoto menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya, yang mana berawal adanya perjanjian kesepakatan kerja antara saksi Hiendra Soenjoto dengan Tonny Almansyah.

“Namun pada akhirnya yang menerima uang untuk kesepakatan itu adalah terdakwa Permata Nauli Daulai,” kata saksi Hiendra.

Terdakwa Permata Nauli Daulay telah menerima uang secara tunai sebesar Rp 10 miliar dengan perincian Rp 1,5 dua kali, Rp 2 miliar sekali dan Rp 5 miliar sekali yang jumlah keseluruhan Rp 10 miliar.

Hiendra menyebutkan melalui media aplikasi whatsapp (WA), pada tanggal 11 April 2018, 13 April 2018, 25 April 2018, dan 26 April 2018, dia meminta terdakwa Permata Nauli Daulay untuk kirimkan kwitansi atau tanda terima uang, termasuk tanda terima tanggal 27 Pebruari 2018 yang akan dibawa kepada Investor, tanda penyerahkan uang Rp 5 miliar kepada Terdakwa Permata Nauli Daulay.

Bahwa pada tanggal 15 April 2018, kira-kira pukul 18.00 WIB, Fariq Libarani Shandi menemui Hiendra Soenjoto di Hotel Sunlake, Sunter, Jakarta Utara dan Fariq Libarani Shandi menyerahkan Kwitansi atau Tanda Terima Tertanggal 27 Pebruari 2018 tersebut kepada Hiendra Soenjoto.

Bukti bukti penyerahan uang itu diperlihatkan saksi Hiendra dipersidangan. Dan hal itu diakui terdakwa. Namun terdakwa mengaku bahwa uang itu adalah untuk jasa sebagai kurator.

Atas pernyataan terdakwa itu, Ketua Majelis hakim Didik Wuriyanto mengatakan agar pernyataan itu nanti disampaikan saat pemeriksaan terdakwa.

"Saudara terdakwa, saat ini masih Pemeriksaan saksi-saksi. Apakah yang dikatakan saksi ini benar atau salah? Itu aja. Jika salah dimana yang salah? Keberatannya nanti tuangkan dalam pledoi, ok," ucap Hakim Didik.

Kemudian saksi Hengky Soenyoto menjelaskan bahwa yang melakukan transferan Rp 5 miliar itu adalah dirinya. "Saya yang mentransfer uang itu pak hakim. Saya transfer dari Surabaya," katanya.

Terdakwa Permata Nauli Daulay didakwa dengan dakwaan alternatif atas tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 378  jo Pasal 55 ayat 1 ke-1  KUHP atau Pasal 372 KUHP jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP karena Terdakwa Permata Nauli Daulay selaku Kurator telah menerima transfer uang dari Hiendra Soenjoto Rp 10 miliar namun tidak melaksanakan pekerjaan sebagaimana dalam perjanjian. (Olo)

Share
Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.