JPU Ancam 4 Tahun Penjara Terdakwa Alex Wijaya dan Meilani

325

limitnews.net

Sidang pemeriksaan saksi Netty untuk terdakwa Meilani dan Alex Wijaya, Kamis (22/7/2021). Limitnews.net/Tomson

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta Rumondang Sitorus, SH menghadapkan terdakwa Meilani dan dan Alex Wijaya (Ayah dan Anak) untuk diadili di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, No 17, Jakarta Pusat, Kamis (22/7/2021).

JPU Rumondang Sitorus menghadirkan 4 saksi untuk didengarkan keterangannya dihadapan Ketua Majelis Hakim Tiares Sirait SH, MH, dengan Anggota Majelis Rudi F Abbas, SH, MH atas dakwaan penipuan, penggelapan dan pencucian uang yang dilakukan Terdakwa Meilani dan Alex Wijaya, hingga Netty mengalami kerugian Rp 22 miliar.

Dihadapan persidangan, saksi Netty mengatakan terdakwa Meilani dan Alex Wijaya bertemu di Senayan City membahas investasi.

"Ya, yang mulia, saya ditawarkan investasi di perusahaan nya PT. Innopack lalu saya investasi Rp.10 miliar pada akhir tahun 2013 dengan frovit 2 persen setiap bulan. Saya tertarik karena disebutkan PT. Innopack bonafid. Dan Alex Wijaya mengatakan mengenal banyak petinggi negara karena dirinya anggota BAIS. Jadi, jangan hubungi saya melalui WA, karena nomer saya disadap," ujar Netty menjawab pertanyaan Hakim yang memintanya menceritakan kronologi terjadinya penipuan itu.

Kemudian pada pertemuan kedua, kata Netty  dia ketemu dengan Alex Wijaya dengan maksud menagih frovit 2 persen yang dijanjikan Alex Wijaya.

"Saya bertemu dengan terdakwa dengan maksud menagih frovit 2 persen setiap bulan, tetapi terdakwa malah meminta saya investasi lagi dengan perusahaannya yang sedang akan go publik. Saya sebenarnya ada curiga, soalnya frovit 2 persen dari investasi Rp 10 miliar belum ada realisasi. Pertemuan kedua ini terdakwa Meilani tidak ikut," ungkap saksi Nenty.

Kemudian pada pertemuan ke tiga di Imperium Penjaringan, ada Alex Wijaya, Meilani, Netty dan Budianto Salim. Budianto adalah karyawan Netty di PT. Inti Bangun Selaras sebagai Kepala Bagian Umum.

Budianto Salim mengaku dua kali mendampingi bosnya (Netty) dalam pertemuan dengan terdakwa Meilani dan Alex Wijaya. Yang pertama di Senayan City akhir tahun 2013 dan kedua Februari tahun 2014 di Imperium Penjaringan. Pada pertemuan itu saksi Budianto Salim menyampikan apa yang disampaikan saksi Netty.

Sementara saksi Darmawan Sutadi mengatakan pernah menyetorkan uang Rp 5 miliar ke perusahaan terdakwa merupakan realisasi Pertemuan di imperium. Namun meskipun Netty telah menyerahkan uang Rp 22 miliar atau berinvestasi ke terdakwa tetapi dirinya tidak mendapatkan atau tidak menerima frovit 2 persen setiap bulan sebagai mana yang dijanjikan Alex Wijaya.

Karena tidak dapat dihubungi baik secara langsung mau by telepon, akhirnya saksi Netty menyadari bahwa dirinya telah di tipu, sehingga dia membuat laporan ke Polda Metro Jaya dengan dakwaan Pasal 378, Jo. Pasal 372 KUHP, Jo. Undang undang pencucian uang yang diancam pidana 4 tahun penjara.

Diluar persidangan Saksi Netty mengaku kenal dengan Alex Wijaya di gereja. Dan Alex Wijaya dipandang sebagai berpengaruh karena banyak membantu kegiatan gereja.

"Saya yakinlah sama bapak Alex Wijaya, beliau kan aktif di Gereja. Rupanya apa yang dilakukan di gereja berbanding terbalik dengan kelakuan diluaran. Dan perlu bapak tahu, mungkin masih banyak orang yang menjadi korban seperti saya," ujar Netty kepada wartawan diluar persidangan.

 

Penulis: Tomson

Share
Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.