JPU Curigai Pemecatan Cony Modus Terdakwa Alex Pengalihan Dana PT. Innopack

limitnews.net

Terdakwa Presdir PT Innopack Alex Wijaya berbicara dengan PHnya usai sidang, Senin (16/8/2021). Limitnews.net/Tomson

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Sitorus, SH mencurigai pemecatan Cony dari jabatan Direktur Keuangan PT. Innopack adalah siasat atau modus pemecatan dalam upaya terdakwa Alex Wijaya mengalihkan dana PT. Innopack sehingga dibuatkanlah issu mengelapkan uang perusahaan.

Hal itu diungkapkan JPU Rumondang Sitorus, SH di hadapan persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Tumpanuli Marbun, SH, MH dengan hakim anggota Tiares Sirait, SH, MH dan Rudi F Abbas, SH, MH saat siding pemeriksaan terdakwa Alex Wijaya dan terdakwa Ng Meiliani, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jln. Gajah Mada, No.17, Jakarta Pusat, Senin (16/8/2021).

Tudingan JPU Rumondang dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta itu karena terdakwa Alex Wijaya selaku Presiden Direktur PT. Innopack tidak melaporkan peristiwa penggelapan yang dilakukan Cony itu kepada kepolisian.

“Saudara terdakwa Alex Wijaya, menurut keterangan saksi Cony pada persidangan sebelumnya, bahwa anda telah memecatnya tahun 2019. Yang menjadai pertanyaan saya, apa alasan pemecatan saksi Cony?” ucap JPU Rumondang bertanya kepada terdakwa Alex, yang dijawab: pegelapan dana.

“Ohh, jadi karena diduga menggelapkan uang perusahaan. Saudara kan tahu bahwa saat ini saksi Cony sudah membuka perusahaan baru dan berarti dia memiliki perusahaan. Apakah anda tidak curiga? Mengapa saudara terdakwa selaku Presdir tidak melaporkan hal itu kepada kepolisian supaya dilakukan pengusutan?,” tanya JPU, yang dijawab: nanti, kemudian.

Dapat dipahami bahwa pertanyaan JPU itu adalah pertanyaan cerdas dan sesuatu yang sulit dijawab terdakwa. Sebab mungkin bahwa selama ini terdakwa Alex Wijaya tidak pernah berpikir akan adanya pertanyaan seperti itu didalam persidangan.

Ketua Melis Hakim Tumpanuli Marbun sebelumnya sudah menyampaikan dipersidangan  bahwa suatu kebohongan akan menciptakan kebohongan baru dan demikian selanjutnya sehingga dalam Pasal 378 KUHP disebutkan : Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menggunakan nama palsu atau martabat (hoedaningheid) palsu; dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapus utang, diancam dengan pidana 4 tahun.

Hal itu dilontarkan Tumpanuli karena terdakwa Alex Wijaya seolah menggiring kasus penipuan Rp.22 miliar terhadap saksi korban Netty Malini merupakan sumbangan sebagai uang operasional PT. Innopack. Bahkan terdakwa Alex Wijaya menyampaikan bahwa ia tidak memiliki niat untuk mengembalikan dana korban ataupun memberikan profit/bunga kepada korban, hal tersebut semakin menunjukkan adanya niat buruk yang dimiliki terdakwa sejak awal untuk menjadikan Netty Malini, seorang wanita awam sebagai target aksi penipuan yang didakwakan terhadapnya.

“Hampir setahun pada tahun 2011 diperkenalan kami saya yang menjadi teman dia (Netty Malini) curhat hingga kondisinya kembali normal,” ujar Alex Wijaya kepada Majelis Hakim yang mepertanyakan bagaimana awalnya uang Rp.22 miliar itu bisa di berikan Netty Malini.

Bahkan Hakim Anggota Tiares Sirait mengingatkan terdakwa Alex Wijaya supaya tidak membuat persidangan menjadi Drakor (drama serial Korea).

“Saudara terdakwa, jangan menjadi drakor. Bicaralah apa dan bagaimana cara terdakwa bisa mendapatkan kucuran dana Rp.22 miliar itu. Bahkan anda sendiri mengakui bahwa uang yang anda terima berjumlah Rp.28,5 miliar. Tetapi saksi korban hanya menuntut Rp.22 miliar sebagaimana dalam pembicaraan dengan Profit 2 persen dari uang investasi tersebut. Apa yang ditanya majelis jawab, tidak usah ngalorngidul,” ujar Tiares meperingatkan terdakwa Alex Wijaya.    

Sekarang pertanyaan, apakah terdakwa Alex benar pernah mengatakan sebagai anggota BIN, BAIS? Yang dijawab: tidak.

Apakah benar saudara menjanjikan profit dua persen? Tanya hakim. “Majelis, setelah saya menceritakan kebutuhhan perusahaan, dia (Netty) yang menawarkan uangnya dipinjamkan, katanya dari pada di bank dengan bunga kecil. Jadi bukan saya yang meminta majelis,” jawab terdakwa Alex Lagi lagi.

Upaya bela diri dilakukan terdakwa Alex dengan menyampaikan bahwa Netty Malini yang tidak mau agar namanya tercatat dalam perusahaan sehingga setiap penyetoran dana tidak menggunakan namanya sendiri tetapi menggunakan nama orang lain. Namun ketika majelis hakim menanyakan mengenai bagaimana pencatatan perusahaan terhadap dana masuk sebesar 22M ke PT Innopack, terdakwa justru kebingungan dan menyampaikan bahwa tidak dicatatkan atas nama Netty Malini melainkan terdakwa memerintahkan karyawannya untuk mencatatkan dana tersebut sebagai hutang kepada pemegang saham.

Lebih lanjut Alex justru menyampaikan bahwa PT Innopack tidak memiliki kewajiban pengembalian/pembayaran kepada Netty Malini karena itu merupakan pinjaman pribadi.

Terkait dengan Giro dengan nilai Rp.10 miliar tgl 28 Februari 2014 sebagai kode saja bukan pembayaran. Artinya kode untuk menjadi pertanggungjawaban perusahaan kelak kepada saksi Netty Malini.

Sementara Penasehat hukum terdakwa Dr. Efendi Simanjuntak bertanya kebenaran adanya kesepakatan bungan 1 persen. “Setelah adanya somasi dari kuasa hukum Pelapor lalu dibuat perjanjian bunga  1 persen,” jawab Alex Wijaya.

Terkait pembayaran Rp.2,8 miliar, kata Alex itu adalah sesuai permintaan dan kebutuhan Netty.  Alex Wijaya mengaku tidak ada pembicaraan jatuh tempo untuk pembayaran utang.

Dalam kepailitan PT Innopack Netty Malini sudah diakui sebagai kreditur dengan utang Rp.22 miliar:

Terkait draf RUPS? Alex Wijaya menjawab tidak pernah lihat draf RUPS itu:  Tidak tahu: tidak tahu mengenai draf RUPS. “Itu tidak benar majelis, begini majelis, kalau saya yang buat pastinya tidak seperti itu,” ujar Alex Wijaya memastikan bahwa draf RUPS yang dijadikan barang bukti itu tidak pernah diperlihatkan kepada saksi Netty Malini.

Terkait kepailitan, Terdakwa Alex Wijaya juga mengatakan setelah putusan PKPU 2019, lalu Maybank mempailitkan PT. Innopack karena utang Rp.400 miliar. Dan adalagi utang sekitar Rp.200 miliar, sehingga dijumlah seluruh hutangnya lebih kurang Rp.600 miliar. Adapun kondisi pailit yang dialami PT Innopack terjadi atas permohonan pailit voluntary (sukarela) yang diajukan oleh PT Innopack itu sendiri sebagaimana terbukti dalam perkara nomor 21/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Sby di Pengadilan Niaga Surabaya.

Alex juga mengaku 4 perusahaan sedang  masa lelang yang ditangani kurator Jimmy. Tetapi yang di Bogor diakui sudah laku dilelang.

 

Penulis: Tomson              

Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.