Penyidik Diduga Rubah Kronologi Penangkapan 6 Tersangka Kepemilikan 20 Senpi Ilegal

limitnews.net

Polda Metro Jaya saat temu pers menghadirkan tersangka dan barang bukti senjata api ilegal. Limitnews.net/Istimewa

JAKARTA – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Barat dan Polres Jakarta Barat diduga "bermain api" dalam proses hukum penanganan 6 tersangka kasus kepemilikan 24 senpi dan ribuan peluru ilegal, atas nama tersangka, 1. Anastascha Kartadinata alias Tasya, 2. Jerry Rondonuwu alias Jericho, 3. Ghan Tiong Bie alias Tombie Ghani  (GTB), 4. Willi Kosasi (WK), 5. M Hambali (MH) dan 6. Andres (AST).

Pasalnya, patut diduga ada oknum telah merubah kronologi kejadian terjadinya peristiwa tindak pidana yang sebenarnya, sebagaimana proses penangkapan  yang diungkapkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sidjana, yang didampingngi Dirkrimum dan Kapolres Jakarta Barat, saat jumpa pers pengungkapan penangkapan yang berawal dari peristiwa laporna penganiayaan mengunakan senjata api (Senpi). Edisi 18 Maret 2020 19:41 (kumparanNEWS).

Hal itu dikatakan Direktur Monitoring Saber Pungli Indonesia (MSPI) Thomson Gultom kepada limitnews.net, Senin (9/8/2021).

Dia menyampaikan ada perberdaan dalam pers relis dan proses pemberkasan perkara.

“Pada kenyataannya dalam berkas yang dilimpahkan penyidik reskrim Polres Jakarta Barat ke Kejari Jakarta Barat berkas tersangka Anastascha Kartadinata alias Tasya (AK), dan  Jerry Rondonuwu alias Jericho (JR) berdiri sendiri atas kepemilikan senjata api itu, tidak melibatkan tersangka   Ghan Tiong Bie alias Tombie Ghani  (GTB) sebagai saksi atas penjualan senpi yang digunakan tersangka Jerry untuk menganiaya DH,” ungkap Thomson dan membandingkan pemberitaan pers relis penangkapan, sebagaima pada berita Polisi Tangkap 6 Tersangka Pemilik 24 Senpi Dan Peluru Ilegal Di Jakbar.

Polres Metro Jakarta Barat bersama Polda Metro Jaya menangkap enam tersangka pemilik senjata api ilegal. Ada 24 pucuk senjata api dan ribuan peluru yang disita dari tangan pelaku. Keenam tersangka yang ditangkap yakni JR, AK, GTB, WK, MH, dan AST.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana mengatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan kedua tersangka, AK dan JR pada 29 Januari 2020. Keduanya diduga melakukan penganiayaan kepada korban berinisial DH.

“Mereka kemudian menggunakan senjata api, diletupkan ke samping telinga DH (korban) dan memukul korban menggunakan senjata api tersebut,” kata Nana dalam keterangannya, Rabu (18/3).

Polisi yang menerima laporan tersebut segera menangkap kedua orang itu, sekaligus menemukan senjata dan peluru. Saat diperiksa, keduanya mengaku mendapat senjata api ilegal itu dari tersangka GTB.

"Sekitar 19 Februari 2020, GTB ditangkap. Kami selanjutnya melakukan penggeledahan di daerah Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Di sana ditemukan 5 senjata api dan 3 senjata angin," ujarnya.

Kasus ini kemudian berkembang seiring pemeriksaan intensif yang dilakukan polisi terhadap para tersangka. Tersangka GTB mengaku sudah menjual senjata api ilegal itu ke tersangka lain, yakni WK, MH, dan AST.

“Kemudian kami kembangkan ke 3 orang tersebut dan pada 21 Feburari tersangka tadi berhasil diamankan,” terangnya.

Saat ini, para tersangka masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi masih mendalami dari mana senjata api ilegal itu diperoleh.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 1 ayat 1 UU Nomor 12 tahun 1951, Pasal 172 ayat 2 KUHP, Pasal 368 KUHP, Pasal 33 ayat 2 KUHP, dan Pasal 335 ayat 1 KUHP atas Kepemilikan dan Penjualan Senjata Api Ilegal. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara.

Sementara Jaksa Kejari Jakarta Barat mengatakan tidak mengetahui kalau ada kaitan tersangka Tasya dan Jerry dengan Ghan Tiong Bie.

“Maaf pak, kita ga tau seperti itu kejadiannya. Klo kita tau seperti itu rangkaian peristiwanya pasti kita kasi petuntuk. Tapi kita tidak tau seperti itu,” ujar Kasi Intel Kejari Jakarta Barat Edwin dan Jaksa Eka kepada wartawan.

 

Penulis: Olo Siahaan

Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.