Polres Rokan Hilir Tolak Laporan Masyarakat, Fernando Silalahi: Kapolri Harus Turun Tangan

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Limitnews.net/Istimewa

JAKARTA - Viral video siaran langsung status Facebook (Fb) seorang korban penganiayaan bernama Folorentina Situmorang ditolak laporannya di Polres Rokan Hilir, Polda Riau.

Siaran langsung Fiorentina hingga Senin (1/3/2021) pukul 08:00 WIB mendapat like 878 kali sejak melakukan siarang langsung 14 jam yang lalu.

Pada video itu Florentina Situmorang menceritakan derita lahir batin yang dialami seluruh keluarganya dianiaya sekelompok orang. Yang membuat miris perasaan, laporan atas kejadian penganiayaan berat yang dialami keluarga Florentina Situmorang tidak diproses oleh Kepolisian Resort Rokan Hilir, Polda Riau.

Rangkaian peristiwa terjadinya derita seluruh keluarganya diungkapkan Florentina berawal dari dugaan pelecehnan seksual yang terjadi kepada dirinya ketika dia hendak mengusir 20 orang pria yang menjarah hasil tanaman di kebunnya.

Sejumlah pria yang mengambil hasil kebunnya itu bukannya pergi malah beramai-ramai membuka celananya dan mempertontonkan alat kelaminnya kepada Florentina Situmorang sambil melontarkan ucapan pelecehan: "Kalau kami perkosa kau tidak akan ada yang urus. Kau laporpun kepolisi tidak bakal ditindaklanjuti itu," kata Florentina Situmorang menceritakan perkataan ke 20 orang pria yang menunjukkan alat kemaluannya kepadanya.

Atas peristiwa itu, Florentina Situmorang pergi ke Polres Rokan Hilir hendak membuat laporan polisi. Namun sayang, laporannya tidak diterima anggota polisi yang piket di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Rokan Hilir.

Florentina Situmorang disuruh menyediakan bukti dan saksi, sehingga laporannya tidak dibuatkan. Padahal peristiwa masih berlangsung.

Menurut Direktur Eksekutif Monitoring Saber Pungli Indonesia (MSPI) Dr. Fernando Silalahi, ST, SH, MH, CLA,  seharusnya petugas SPK Polres Rokan Hilir menerima laporan palapor.

"Kepolisian tidak boleh menolak laporan masyarakat. Laporan harus diterima dulu, nanti setelah dalam proses penyelidikan baru bicara saksi dan bukti. Apalagi yang dilaporkan itu peristiwanya masih berlangsung. Kepolisian seharusnya langsung ke TKP, laporan bisa menyusul," tegas Doktor hukum tatanegara itu.

Ternyata peristiwa yang dialami Florentina Situmorang tidak hanya pada pelecehan yang dilakukan 20 orang di kebun. Pelapor Florentina Situmorang dan keluarganya juga mengalami pengadianiayaan berat oleh kelompok yang melakukan pelecahan kepadanya. Seluruh keluarganya dianiaya, ada yang luka-luka dan bahkan ada yang mengeluarkan darah.  Tetapi pihak kepolisian tidak memproses kejadian itu.

Florentina Situmorang kembali melaporkan peristiwa penganiayaan keluarganya kepada Polres Rokan Hilir. Sungguh ironis, laporannya juga tidak ditanggapi.

"Pak polisi tolong lindungi keluarga saya dari penindasan ini. Saya minta keadilan pak polisi. Apakah polisi bukan pelindung rakyat?," Teriak Florentina Situmorang di kantor Polres Rokan Hilir, namun tidak ada tanggapan.

Menurut Florentina bahwa kejadian Januari 2021 dan 15 Februari 2021 itu merupakan pengulangan ketidakadilan yang dialami keluarga nya. Dia mengungkapkan bahwa sebelumnya pada tahun 2016 silam, orang tuanya laki-laki telah meninggal suami akibat penganiayaan di Polres Rokan Hilir. Dan sampai saat ini belum ada proses hukum atas meninggalnya bapaknya.

"Bapak Jokowi, tolonglah saya bapak, jangan biarkan rakyat mu dianiaya. Saya minta keadilan bapak!," Teriaknya didalam video itu.

Dari sejumlah ucapannya, dia yakin Tuhan akan mengungkapkan kebenaran. Dia percaya keadilan akan tampil sebagai pemenang.

"Kemenangan kejahatan hanya sementara, tapi keadilan untuk keluarga saya akan Tuhan tunjukkan," ucap Florentina Situmorang sambil menepuk-nepuk dadanya ditengah banjiran air mata yang menghiasi wajahnya.

Oleh karena itu Dr. Fernando Silalahi menghimbau Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turuntangan langsung menginvestigasi peristiwa itu.

"Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kita minta turun langsung. Ini peristiwa memilukan dan menjadi preseden buruk bagi kepolisian dengan visi "PolriPresisi" (pemolisian prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan) apa bila video ini benar adanya. Kita prihatin," tandas Fernando. (Tini/Tom)

Share
Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.