Sabtu, 19 Oktober 2019

limitnews.net

Limit News > Jakarta > Replik JPU: Terdakwa Albert Tiensa Terbukti Melanggar Pasal 263
Posted By: limitnews, 4:37 PM, 2 Oktober 2019

Replik JPU: Terdakwa Albert Tiensa Terbukti Melanggar Pasal 263

Share

limitnews.net

Jalannya persidangan di PN Jakarta Pusat. Tomson/limitnews.net

JAKARTA I LIMITNEWS.NET – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maidarlis Jaksa dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta dalam repliknya atas pledoi/pembelaan terdakwa Albert Tiensa, SH, MH mengatakan bahwa Albert Tiensa selaku terdakwa yang berprofesi sebagai advokat dan sudah cukup senior tidak perlu lagi membantah dakwaan JPU dalam surat tuntutannya.

“Terdakwa advokat Albert Tiensa selaku pengacara senior semestinya sudah faham betul betapa berbahayanya yang diperbuatnya itu. Bantahan tidak bersalah itu menjadi bumerang buat dirinya. Dan itu menjadi hal-hal yang memberatkan dalam pertimbangan kami selaku penuntut. Sebab akibat tindakannya yang memerintahkan  saksi F.X Benny Kusuwarto untuk mengetik Surat pernyataan yang isinya Palsu surat tertanggal 14 April 2016 di Kantor terdakwa II Albert Tiensa SH, MH  kurang cermat dan dianggap terlalu sembrono. Sebab akibat tindakannya  itu banyak orang menjadi korban,” ucap JPU Maidarlis kepada media ini menanggapi pledoi Terdakwa Albert Tiensa yang dituangkan dalam repliknya, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl. Bungur Besar Raya, Kemayoran,  Selasa (1/10/2019).

Maidarlis menjelaskan, surat pernyataan tanggal 14 April 2016 yang ditandatangani saksi Piping Mulya Pribadi yang isinya Palsu, berasal dari inisiatif terdakwa ll Albert Tiensa SH, MH, yang walaupun isi dari surat pernyataan itu berdasarkan pengakuan dan ceritera Terdakwa I Selvi Hartanto, pada saat Terdakwa I Selvi Hartanto diajak oleh saksi Lina Miranti, saksi Hellen Hetty pergi ke Kantor terdakwa ll Albert Tiensa di Lippo Karawaci Utara selaku Penasihat Hukum saksi Lina Miranti. 

Berita Terkait: Albert Tiensa Kalah Pada Gugatan Rivan Lawan Lina Miranti

Dimana pada saat saksi Lina Miranti memperlihatkan serta menyerahkan foto copy Surat Pernyataan tertanggal 31 Maret 2015 kepada terdakwa II Albert Tiensa, kemudian Terdakwa Albert Tiensa menyuruh FX Benny (anak buahnya) dikantor Advokat Albert Tiensa. Setelah surat itu selesai diketik FX Benny lalu surat itu dibawa ke Kelurahan Paseban, Kec. Senen, untuk menjumpai staf kelurahan yang bernama Piping Mulia Pribadi dan meminta untuk menandatangani Surat yang diketik FX Benny itu.

Lalu Terdakwa II Albert Tiensa meminta saksi Piping Mulia Pribadi (Sudah dihukum 1,5 tahun) untuk menandatangani surat yang disodorkan Terdakwa II Albert Tiensa, setelah terlebih dahulu memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum ahli waris dan menunjuk kepada terdakwa I Selvi Hartanto yang duduk agak jauh.

Setelah surat itu ditandatangani saksi Piping Mulia Pribadi, selanjutnya surat itu dibawahnya ke kantor Lurah Kemayoran, Kec. Kemayoran, dengan harapan Lurah Kemayoran Bangun menandatangani surat yang sudah ditandatangani saksi Piping Mulia Pribadi itu. Ternyata Lurah Bangun Malau tidak mau menandatangani surat itu dengan alasan: jika mau membuat surat kesepakatan harus dihadiri semua pihak keluarga ahli waris.

Meskipun pada saat itu Albert Tiensa meyakinkan Lurah Bangun bawa surat yang disodorkan hanya surat somasi terhadap surat 31 Maret 2015. Meskipun tanpa membaca ISIS surat itu, Lurah Bangun Malau tetap tidak mau tandatangan.

Berita Terkait: Terdakwa Albert Tiensa Minta Dibebaskan dan Ganti Rugi

Meskipun surat 14 April 2016 itu tidak ditandatangani Lurah Kemayoran Bangun Malau, tetapi surat itu dipergunakan Terdakwa II Albert Tiensa sebagai bukti bersama dengan foto copy surat 31 Maret 2015 pada perkara Lina Miranti yang saat itu sebagai terdakwa dalam Pasal 167 KUHP.

Dengan dijadikannya surat 14 April 2016 dan surat 31 Maret 2015 itu sebagai bukti diperkara Terdakwa Lina Miranti yang didakwa melanggar Pasal 167 KUHP, Majelis Hakim memutus perkara menjadi onslah. Sehingga Lina Miranti luput dari hukuman pidana.

“Bagaimana seorang advokat membuat dan mengatakan bahwa isi surat itu tidak palsu? Sebab sertifikat rumah jelas atas nama Shinta Hartanto, tetapi dia membuat surat bahwa rumah dan tanah adalah milik Herman Hartanto dan nama Shinta Hartanto dalam SHM 173 itu hanya pinjam nama. Seharusnya Terdakwa Albert Tiensa tahu kalau sertifikat tanah itu merupakan bukti kepemilikan sah dan tak dapat diganggu gugat kecuali ada bukti lain yang membatalkan,” papar Maidarlis.

Sementara itu, saksi Rivan menyayangkan hakim yang memberikan pengalihan penahanan terhadap terdakwa Albert Tiensa dan Silvi Hartanto. Apalagi terhadap diri Terdakwa Albert Tiensa.

“Saya pikir memang  kewenangan subjektif Majelis Hakim untuk mengalihkan tahanan seorang terdakwa. Tetapi mungkin ada pengecualian bagi seorang yang sudah termasuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Terdakwa Albert Tiensa sempat masuk DPO Polda Metro Jaya saat hendak penyerahan berkas dan tersangka dari Polda ke Kejati DKI Jakarta. Setelah dilakukan pemanggilan 3 kali secara patut namun Albert Tiensa tetap tidak hadir. Sempat katanya sedang keluar Negeri, ternyata dicek ke imigrasi tidak ditemukan adanya terrecord disana,” ujar pelapor Rivan Hartanto. (Tom)

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz