Sidang Pemalsuan RUPS, JPU Hadirkan Saksi Advokat Octolin Hutagalung

limitnews.net

Terdakwa Phoa Hermanto Sudjojono, Ren Ling dan S. Manullang dibelakang Penasehat Hukumnya pada sidang, Selasa (3/8/2021). Limitnews.net/Tomson

JAKARTA - Jaksa penuntut Umum (JPU) Shubhan, SH dari Kejaksaan Ngeri (Kejari) Jakarta Utara mengahdirkan saksi Advokat Octolin Hutagalung, SH untuk didengarkan keterangannyan terhadap tiga terdakwa masing-masing Phoa Hermanto Sundjojo (PHS), Ren Ling (RL) dan Sumuang Manullang (SM), di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jln. Gajah Mada, No.17, Jakarta Pusat, Selasa, (3/8/2021).

Dihadapan persidangan Pengadilan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Dodong Iman Rusdani, SH, MH dengan anggota majelis Rianto Adam Pontoh, SH. MH dan Agus Darwanto, SH, saksi Octorin Hutagalung, SH mengatakan bahwa dirinya membuat draf RUPS-LB (Rapat Umum Pemegang Sahan-Luar biasa) PT. BCMG Tani Berkah atas permintaan ketiga terdakwa yang datang ke kantornya.

“Ketiga terdakwa datang kekantor saya minta dibuatkan draf undangan RUPS-LB. Dan bukan hanya bertiga, tetapi saat itu ikut juga orang tua Ren Ling,” ujar saksi Advokat Octolin Hutagalung, SH menjawab pertanyaan majelis hakim yang mepertanyakan siapa yang membuat draf undangan RUPS-LB yang menjadikan Phoa Hermanto Sundjojo (PHS), Sumuang Manullang  (SM) dan Ren Ling (RL) menjadi terdakwa sehingga menjadi pesakitan duduk di kursi persidangan PN Jakarta Utara, yang walaupun saat ini ketiganya telah bebas berkeliaran karena ketiganya telah dibebaskan Majelis Hakim dari Rumah Tahanan Negara (RUTAN) Bareskrim Polri setelah penahanannya dialihkan menjadi tahanan kota.

Sehingga merekapun nampak menikmati kebebasannya itu dengan bersendau gurau, ketawa-ketiwi sambil menikmati lalu-lalangnya orang yang berperkara lewat didepan mereka di pintu keluar-masuk  PN Jakarta Utara, usai persidangan. Di depan pintu gerbang (tempat parkir mobil) PN Jakarta Utara itulah mereka berpuas diri, dan setelah puas bersendagurau dengan waktu yang lumayan lama, satu-persatu berangsung mereka meninggalkan lokasi parkiran itu.

Kembali ke keterangan Saksi Octolin Hutagalung menyatakan sudah banyak yang lupa keterangannya yang tercatat di BAP polisi.

“Lupa! Sekira tahun 2019, February, LP (laporan polisi) di Polda,” jawab saksi Octolin, SH ketika ditanya hakim apa yang dilaporkan saat adanya laporan di Polda Metro Jaya.

Keterangan saksi Octolin sepertinya menyimpan sesuatu sehingga seringkali mengatakan lupa. Bahkan mengatakan tidak akan menjawab pertanyaan Penasehat hukum terdakwa, dengan alasan melanggar kode etik advokat.

Sehingga Ketua Majelis Hakim Dodong Iman Rusdani meberikan isyarat kepada anggpota majelis seakan bertanya: apakah ada rahasia yang tidak dapat dibuka didepan persidangan? Gelengan kepala dari anggota majelis seolah menyatakan bahwa segala informasi yang diketahui saksi terkait dengan perkara harus diungkapkan dipersidangan.

“Saudara saksi, saudara dipanggil kepersidangan ini untuk menyampaikan apa yang saksi alami, yang saksi dengarkan sendiri, yang saksi lihat sendiri, itulah yang saksi terangkan. Tidak ada rahasia dalam persidangan ini! Justru karena adanya rahasia itulah sehingga saksi dihadirkan keper sidangan ini sehingga semuanya menjadi terang benderang, dan tidak adalagi yang tersenbunyi,” ucap Dodong meyakinkan saksi advokat Octolin Hutagalung, SH.

Octolin mengakui membuat redaksi undangan RUPS-LB itu. “Redaksinya memang saya yang mebuat. Tetapi saya sampaikan kepada ketiga terdakwa, jika terkait untuk redaksi undangan RUPS-LB PT. BCMG  bisa di download di googlee. Tetapi mereka tetap meminta saya, sehingga saya buatkan sesuai permintaan mereka dan setelah saya buatkan lalu saya kirim melalui emailnya Ren Ling, tanpa tanggal dan tanpa hari dan tanpa tempat. Semua saya kirim secara formal saja. Terkait yang lain ada tambahan yang ada di draf itu saya tidak tahu,” tambah Advokat Octolin Hutagalung.

Demikian juga terkait RUPS-LB dipertanyakan Hakim. “Apakah saudara saksi juga diundang menghadiri RUPS 5 Agustus?” Yang dijawab, tidak. “Saya datang karena ditelpon Ren Ling tidak diundang melalui undangan RUPS,” jawabnya.

Siapa saja yang hadir dalam RUPS-LB itu? Apakah ketiga terdakwa ada dalam RUPS itu? Tanya hakim yang dijawab: Ya, ada. “Yusuf Indarto juga ada,” tambah saksi.

siapa yang memimpin? Tanya majelis, yang dijawab: Ren Ling.

Apa yang dibahas dalam RUPS-LB itu? Tanya majelis, yang dijawab: tidak tahu. “Saya hanya sebentar didalam RUPS majelis, saya keluar karena saya perokok berat, jadi ngga bisa lama diruangan ber AC,” jawab Saksi Octolin.

Apakah saudara saksi yang menyusun komposisi dalam RUPS-LB itu? Tanya hakim yang dijawab, tidak. “Saya hanya membuat prosedur saja. Adapun komposisi jabatan itu semua kemauan terdakwa,” ujar Saksi menjawab.

Apakah ada kepemilikan PT. Tambang Sejahtera di PT. BCMG Tani Berkah? Tanya hakim yang dijawab: sebagai pemegang saham.

Terkait Notaris Mia. Apakah saudara saksi mengenal Notaris Mia, dan kenal dimana? Tanya majelis yang dijawab, kenal. Saksi Octolin mengatakan mengenal Notaris Mia saat mengambil S1 di Univ Pajajaran Bandung. “Yang mulia, Notaris Mia saya yang meperkenalkan kepada para terdakwa karena mereka (terdakwa) meminta saya mencari Notaris,” ujar Octolin menjawab.

Selanjutnya JPU Shubhan yang mengajukan pertanyaan kepada saksi Octolin, terkait saksi yang menjadi kuasa hukum Rem Ling. Menurut saksi, Ren Ling Dirut di PT. BCMG Tani Berkah. Dan saksi juga mengakui pernah menjadi pengacaranya Ren Ling di BCMG Februari 2019. Penerimaan surat kuasa pendampingan terkait Laporan di Polda.

Saksi juga mengakui Tanggal 5 April di Hotel Ibis ada RUPS BCMG. “Saya hadir disitu tidak ada kaitan dengan surat kuasa. Saya hanya ditelp supaya datang. Dan itupun saya kebanyakan diluar RUPS. Ren Ling yang Pimpin. Yusuf Sudarianto hadir. Dan sejumlah nama-nama itu hadir sesuai pembicaraan mereka. Karena memang saya tidak tahu atau kenal dengan orang-orang dengan nama-nama tersebut. Tapi saya tahu mereka hadir hanya dari penyebutan dari para terdakwa,” jawab saksi Octolin.

Dan yang membuat surat undangan RUPS itu menurut saksi adalah Ren Ling. “Saya hanya mebuat drafnya, atas permintaan mereka (terdakwa-rd)” jawab Saksi.

Bagaimana mereka meminta anda membuat surat undangan itu? Tanya JPU Shubhan, yang dijawab: “Mereka datang ke kantor saya untuk meminta mebuatkan undangan RUPS-LB. Awalnya saya tidak mau dan saya menyarankan supaya di download saja di google atau di koran. Tetapi mereka tetap meminta saya membuat. Lalu saya membuat draf tanpa tujuan, tanpa tanggal, tanpa tempat,” jawab Octolin.

Lalu JPU kembali mempertanyakan dan membaca surat undangan yang berbunyi: Menindaklanjuti surat permohonan Multiwin Asia Limited selaku pemegang saham memohon untuk dilaksanakan RUPS-LB di PT. BCMG Tani Berkah tahun 2019. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, siapa yang mebuat undangan ini? Tanya JPU, yang dijawab: “Jadi begini, sebelum diadakan RUPS saya menyampaikan agar para pemegang saham diundang. Dan draf ini memang saya yang konsef tetapi masih dalam keadaan kosong. Dan ini semua adalah hasil penyempurnaan mereka (terdakwa)” ujar Saksi Octolin.

Saksi Octolin menyatakan bahwa dalam undangan tidak menyebutkan PT. Tambang Sejahtera. “Apa yang saya buat dalam draf adalah atas permintaan mereka. Dan tidak ada nama PT. Tambang Sejahtera. Itu domain mereka,” terang saksi Advokat Octolin.

Terkait ada dua rekan (advokat) yang menyerahkan surat (Foto Copy) kepada Ren Ling, diakuinya. “Saya diberitahu oleh teman bahwa adanya surat. Lalu saya Tanya surat kepada siapa? Lalu diberitahu, Ren Ling. Ya sudah serahkan langsung saja, itu orangnya saya bilang, lalu rekan itu bilang: sampaikan saja hanya surat tembusan saja.

Surat itu terkait pemberhentian Ren Ling dari Jabatan Dirut BCMG Tani Sejahtera  setelah RUPS tanggal 5 April. Selanjutnya Shubha bertanya, apakah pernah menerima dokumen dari Phoa Hermanto Sudjono? Yang dijawab, tidak pernah.

Majelis Hakim kembali mengajukan mempertanyaan kepada advokat Octorin terkait adanya laporan di Polda Metro Jaya. “Saudara saksi, saudara selaku kuasa pada perkara di Polda Metro Jaya, siapa yang dilaporkan? Dan saudara dari pihak mana?’ Tanya hakim Dodong, yang dijawab: “Saya selaku kuasa pelapor (Ren Ling) melaporkan  Chen Tian Hua (selaku Komisaris Utama PT BCMG) atas tuduhan menjual hasil tambang Zinc di BCMG sebelumnya,” jawab saksi Octorin.

Apakah saudara saksi tahu tidak lanjut laporan itu? Tanya hakim lagi, yang dijawab, tidak tahu. “Tapi saya juga menjadi Penasehat Hukum Ren Ling di Bareskrim Polri atas Laporan Chen Tian Hua. Dan sampai sekarang saya masih pensehat hokum terdakwa Ren Ling karena kuasa saya belum pernah dicabut sejak 2019,” ujar saksi Octolin.

Selanjutnya giliran tim Pengacara terdakwa yang mengajukan pertanyaan kepada saksi Octolin Hutagalung, SH. Tetapi pertanyaannya sama dengan yang ditanyakan majelis Hakim. Sepertinya kebanyakan pertanyaan mengulang seolah untuk penegasan dari saksi.

Namun pada pertanyaan selanjutnya Pengacara terdakwa mempertanyakan apa isi surat yang diberikan dua rekan kepada Ren Ling? Saksi Octorin menjelaskan bahwa surat itu adalah terkait pemberhentian Ren Ling dari Dirut. “Setelah saya perhatikan bahwa isi amplop coklat itu adalah foto copian lalu, saya beritahu kepada pak Ren Ling dan belia berkata: kita tunggu yang aslinya saja,” demikian, ucap Octorin menjawab pertanyaan Advokat Farida.

Farida juga mempertanyakan hasil RUPS-LB  5 Agustus sehingga terbitlah akte Nomor. 8 tanggal 8 Agustus mengenai susunan pengurus PT. BCMG Tani Berkah. Dan nama Chen Tian Hua tidak lagi terdaftar sebagai komisaris utama serta tidak pula memiliki jabatan di PT. BCMG Tani Berkah. Padahal Chen Tian Hua telah berinvestasi Rp100 miliar di PT. BCMG Tani Berkah.

Keterangan saksi Octorin itu di sangkal Ketiga terdakwa. “Yang mulia lebihbanyak tidak benarnya keterangan saksi itu,” ujar Ren Ling, Hermanto dan Sumuang.

Atas dihilangkannya nama Chen Tian Hua selaku pemegang saham di PT. BCMG Tani Berkah sehingga  Chen Tian Hua mebuat laporan di Bareskrim Polri. Melalui laporan tersebutlah JPU Shubhan, SH mendakwa terdakwa Phoa Hermato Sujono, Sumuang Manullang dan Ren Ling dengan Pasal 263 Jo. Pasal 266 KUHPdengan ancaman 6 tahun pidana penjara, dengan dakwaan dugaan pemalsuan surat undangan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT BCMG Tani Berkah.

Para terdakwa sebelumnya ditahan Bareskrim Polri, juga dilakukan penahanan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Utara karena saat bareskrim Polri melakukan panggilan dua kali secara sah namun tidak hadir memenuhi panggilan tanpa alasan yang patut dan wajar, sehingga perlu dilakukan tindakan tegas dengan memasukan ketiganya kedalam Rutan.

Mereka ditahan di Rutan Bareskrim Polri sejak 10 Maret 2021 sampai Ketua Majelis Hakim Dodong Iman Rusdani dan Rianto Adam Pontoh mengalihkan tahanan menjadi tahanan kota. Sehingga para terdakwa saat ini dapat hidup berdampingan dengan anggota keluarganya.

Surat yang diduga dipalsukan itu menerangkan bahwa PT. Tambang Sejahtera dan Multiwin Asia Limited selaku pemegang saham memohon untuk dilaksanakan RUPS-LB di PT BCMG Tani Berkah pada 2019.

Kemudian, RUPSLB itu menghasilkan perubahan susunan direksi dan komisaris di PT BCMG Tani Berkah yang dituangkan dalam akta nomor 4 tanggal 8 April 2019 dan nomor 11 tanggal 20 Agustus 2019.

Padahal, surat permohonan RUPS-LB itu tidak ada. Selain itu, pihak Multiwin Asia Limited juga tidak pernah menunjuk terdakwa Phoa Hermanto Sujono untuk mewakili perusahaannya dalam RUPS-LB sebagaimana tercantum dalam kedua akta. Akibatnya, Chen Tian Hua tidak lagi menjabat sebagai komisaris utama di PT BCMG. Dan kehilangan hak-hak atas pengelolaan eksplorasi tambang di perusahaan tersebut. Korban mengalami kerugian materi atas biaya operasional yang sudah dikeluarkan ke PT. BCMG Tani Berkah sejumlah kurang lebih Rp 100 miliar.

Atas perbuatan ketiga terdakwa itu, perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) akan merasa terganggu untuk berinvestasi di Indonesia, padahal pemerintah Indonesia telah menguapayakan segala cara untuk mengundang investor asing untuk berinvestasi di indonesia guna membuka lapangan kerja bagi pencari kerja yang belakangan ini semakin meningkat.

Oleh karena itu Sekretaris Jenderal (Sekjen) Monitoriung Saber Pungli Indonesia mengimbau Jaksa dan hakim agar menghukum maksimal para “pembegal” Investor asing tersebut.

“Tidakan ketiga terdakwa itu sudah mengganggu perekonomian nasional. Pengusaha lokal  yang telah “membegal” investor asing harus dihukum berat. Bayangkan, Presiden RI memboyong Para Menteri dan Pengusaha saat kunjungan kerja keluar negeri dengan maksud meperkenalkan Indonesia secara luas, untuk mengundang investor masuk keindonesia, guna membuaka lapangan kerja, ternyata setelah datang ke Indonesia mereka “dibegal” dengan berbagai cara, ini harus dicermati penegak hukum,” ujar Sekjen Monitoring Saber Pungli Indonesia Lutfi Nasution ketika diminta tanggapannya, Kamis (5/8/2021).

 

Penulis: Tomson

Category: JakartaTags:

limitnews
No Response

Comments are closed.