Sabtu, 19 Oktober 2019

limitnews.net

Limit News > Jakarta > Terdakwa Albert Tiensa Minta Dibebaskan dan Ganti Rugi
Posted By: limitnews, 4:51 AM, 25 September 2019

Terdakwa Albert Tiensa Minta Dibebaskan dan Ganti Rugi

Share

limitnews.net

Suasana sidang di PN Jakarta Pusat. Tomson/limitnews.net

JAKARTA I LIMITNEWS.NET – Terdakwa Advokat Albert Tiensa dalam pledoinya minta dibebaskan dari dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maidarlis, SH, MH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, dan juga minta ganti rugi, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl. Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019).

Hal itu diajukannya dihadapan Ketua Majelis Hakim Sunarso, SH MH, dengan alasan bahwa apa yang dilakukan itu adalah dalam rangka menjalankan profesi sebagai advokat untuk kepentingan kliennya.

“Majelis yang mulia, mohon saya dibebaskan dari segala dakwaan dan tuntutan JPU, karena saya tidak bersalah. Apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan klien saya sebagai advokat yang dilindungi Undang-Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, Pasal 16, yang bunyinya: Seorang Advokat sebagai profesi (OFFICIUM NOBILE) sedang menjalankan tugas profesinya sebagai advokat yang dilindungi mempunyai Hak Imunitas terhadap hukum baik perdata maupun pidana. Seorang Advokat yang sedang menjalankan tugasnya dalam membela kepentingan kliennya dengan itikad baik tidak bisa dituntut baik secara pidana maupun perdata baik diluar persidangan maupun didalam persidangan, yang juga dikuatkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK),” ucap Terdakwa Advokat Albert Tiensa, SH, MH pada pembacaan pledoinya.

Albert mengaku pasrah atas keputusan Majelis. “Hakim Yang Mulia, saya tidak berusaha membela diri dengan memaksakan kehendak saya ini tapi kalau boleh saya memohon dengan hati yang tulus agar sesuai dengan fakta di persidangan dan kebenaran serta keadilan yang seadil-adilnya agar saya, dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pemalsuan surat sebagaimana di atur dan diancam pidana dalam Pasal 263 ayat (1) dan ayat (2) KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP, membebaskan saya selaku Terdakwa II (Albert Tiensa, S.H., M.H.,) dari dakwaan JPU (Vrijspraak), dan atau setidak tidaknya melepaskan saya selaku Terdakwa II (Albert Tiensa, S.H., M.H,) dari tuntutan hukum (onstlag van rechtvervolging),memulihkan harkat dan martabat serta nama baik saya serta mendapatkan ganti rugi, membebankan biaya kepada Negara,” pintan Albert.

Hal itu diungkapkan Albert Tiensa karena didukung keterangan Ahli dari organisasi PERADI (Thomas Tampubolon) yang mengatakan bahwa terdakwa hanya menjalankan tugas profesi sebagai Penasihat Hukum Terdakwa Lina Miranti untuk membela kepentingan klien dalam menghadapi persoalan hukumnya.

“Sampai saat ini saya masih aktif sebagai advokat tidak mendapatkan sanksi dari Peradi. Itulah salah satu bukti saya tidak bersalah. Adapun yang saya buat dalam surat keterangan tgl 14 April yang ditandatangani Piping Mulia Pribadi bersumber dari klien saya Lina Miranti dan terdakwa I Silvi Hartanto selaku ahli waris dan tidak ada yang saya rekayasa. Dan itu hanya menguatkan Surat 31 Maret 2015 yang tidak ada aslinya. Karena jika hanya fotocopy maka tidak diakui dipersidangan sebagai bukti, sehingga dibuatlah surat 14 April 2016 sebagai penegasan terhadap surat 31 Maret yang juga ditandatangani oleh Piping Mulia Pribadi. Jadi Surat Pernyataann tertanggal 31 Maret 2015 dan Surat Pernyataan 14 April 2016 keduanya ada ASLInya dari peristiwa yang sebenar-benarnya. Dan tidak ada yang dipalsukan,” ungkap Albert.

Menanggapi pledoi Terdakwa Albert Tiensa itu JPU Maidarlis mengatakan harus membuat replik tertulis.

“Karena pledoi Terdakwa minta bebas maka harus dijawab dengan tertulis. Dan jika Terdakwa mengatakan tidak bersalah itu hak dialah. Semua orang ingin bebas. Bebas dari hukuman. Oleh karena itu kita harus juga berpikir jernih jangan mencelakakan orang lain. Piping Mulia Pribadi sudah jadi korbannya. Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Piping Mulia dihukum penjara 1 tahun dan 6 bulan dan harus dipecat dari pekerjaannya karena perbuatan terdakwa Albert Tiensa. Untuk menyelamatkan satu orang (kliennya) dia harus mengorbankan banyak orang? Itu tidak boleh terjadi lagi. Seharusnya Terdakwa Albert Tiensa paham kalau apa yang dia perbuat itu telah melanggar hukum, tetapi hanya untuk kepentingan “dirinya” menjadi banyak orang korban. Empat orang lagi sudah menantikan sanksi atas perbuatan terdakwa Albert Tiensa yang telah membuat surat 14 April 2016 dan menggunakannya sebagai bukti pada persidangan Lina Miranti. Dan atas surat 14 April itu, Lina Miranti bebas dari sanksi pidana,” ujar JPU Maidarlis.

Maidarlis mengaku apa yang dikatakan Terdakwa Albert Tiensa benar bahwa surat 14 April 2016 itu tidak palsu. Tetapi isi surat yang dipalsukan karena tidak sesuai dengan isi surat 31 Maret 2015 sebagaimana kesepakatan bahwa ruamah itu harta warisan bersama. Tetapi dalam surat 14 April itu isinya sudah berubah menjadi: “Bahwa rumah itu adalah milik Herman Hartanto dan hanya meminjam nama Shinta Hartanto”. 

“Bagaimana seorang advokat membuat dan mengatakan bahwa isi surat itu tidak palsu? Sebab sertifikat rumah jelas atas nama Shinta Hartanto, tetapi dia membuat surat bahwa rumah dan tanah adalah milik Herman Hartanto dan hanya pinjam nama Shinta Hartanto. Seharusnya Terdakwa Albert Tiensa tahu kalau sertifikat tanah itu merupakan bukti kepemilikan sah dan tak dapat dipungkiri jikalau tidak ada bukti lain yang membatalkan. Kalau hanya surat pernyataan saja itulah yang menjadi pidana,” papar Maidarlis.

Sementara itu Saksi Rivan menyayangkan hakim yang memberikan pengalihan penahanan terhadap terdakwa Albert Tiensa dan Silvi Hartanto. Apalagi terhadap diri Terdakwa Albert Tiensa.

“Saya pikir memang  kewenangan subjektif Majelis Hakim untuk mengalihkan tahanan seorang terdakwa. Tetapi mungkin ada pengecualian bagi seorang yang sudah termasuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Terdakwa Albert Tiensa sempat masuk DPO Polda Metro Jaya saat hendak penyerahan berkas dan tersangka dari Polda ke Kejati DKI Jakarta. Setelah dilakukan pemanggilan 3 kali secara patut namun Albert Tiensa tetap tidak hadir. Sempat katanya sedang keluar Negeri, ternyata dicek ke imigrasi tidak ditemukan adanya terrecord disana,” ujar Pelapor Rivan Hartanto. (Tom)

Share
Bagikan:
Share

Berita Terkait lainya

Komentar Pembaca

Leave a Reply

Berikan komentar

Notifikasi

wpDiscuz