Terpidana Robianto Idup Akhirnya Dieksekusi ke Lapas Cipinang

Terpidana Robianto Idup saat memasuki mobil tahanan Kejari Jakarta Selatan, Senin (11/10/2021). Limitnews.net/Martini

10/12/2021 09:26:05

JAKARTA - Terpidana Robianto Idup akhirnya dapat dieksekusi guna menjalani putusan pengadilan selama 18 bulan. Bahkan saat ini terpidana Robianto Idup terpidana Pasal 378 KUHP itu masih melakukan upaya hukum luar biasa yaitu Peninjauan Kembali (PK). Itulah buktinya betapa berharganya kebebasan.

Meskipun selama setahun eksekusi gagal gegara alasan sakit, Senin (11/10/2021), eksekutor Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kejati DKI Jakarta, akhirnya Robianto Idup dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang Jakarta Timur guna menjalani putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap (incrach) selama 18 bulan.

Kepala Lapas Cipinang Tonny Nainggolan mengakui Bahwa Robianto Idup sudah dieksekusi.

"Sudah Pak sudah dieksekusi kemarin (Senin, 11-10-red) oleh Kejari Jakarta Selatan dengan putusan hukum 1 tahun dan 6 bulan, Pasal 378 KUHP," ujar Kalapas Cipinang Tonny Nainggolan melalui WhatsApp, Selasa (12/10/2021) pagi.

Hadir di Sidang PK

Hadir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menggunakan dua tongkat dan kursi roda, terpidana Robianto Idup yang didampingi penasihat hukum Fransisca SH menyodorkan beberapa bundel berkas permohonan PK kepada majelis hakim PN Jakarta Selatan pimpinan Dewa Made Budi Watsara SH.

Majelis hakim kemudian mempertanyakan kepada Jaksa Leonard Simalango SH tentang status pemohon PK, dalam hal ini Robianto Idup. Leonard menjawab, pemohon PK berstatus terpidana.

“Yang bersangkutan sakit-sakitan Yang Mulia, jadi belum bisa dilaksanakan ekseklusinya,” kata Leonard. “Sekarang ini dalam penanganan dokter di RS Adhyaksa sebagai pembanding,” kata Leonard menambahkan.

BACA JUGA: Dipanggil Tidak Hadir, Robianto Idup Harus Di-DPO-Kan Kejaksaan

Majelis hakim pun bermusyawarah. Terhadap pemohon PK maupun jaksa Leonard Simalango, hakim menjelaskan permohonan PK bisa saja diajukan seorang terpidana, terlebih yang tengah atau telah menjalani hukuman. Bahkan tidak masalah tanpa dihadiri sekalipun siding PK itu. Berbeda halnya jika belum dieksekusi atau belum jalani hukumannya, tidak bisa ajukan PK kalau tidak dihadiri terus menerus.

Setelah memberi penjelasan seperti itu, majelis hakim memilih mengembalikan bundel-bundel berkas yang sebelumnya diterima karena belum dilengkapi bukti baru atau novum.

“Di email dulu bukti (novum) tersebut. Jadi, kami kembalikan dulu permohonan PK-nya,” kata Ketua Majelis Hakim Dewa Made Budi Watsara SH, Senin (11/10/2021). Majelis hakim selanjutnya mengagendakan persidangan pembuktian pada Selasa pekan depan.

Keluar ruang sidang, beberapa eksekutor dari Kejari Jakarta Selatan dan Kejati DKI tampak berbicara dengan Fransisca, penasihat hukum Robianto Idup. Terpidana Robianto Idup sendiri didorong anak buahnya di kursi roda mendekat ke mobil mewahnya yang menunggu di halaman PN Jakarta Selatan.

Setelah Robianto Idup masuk ke mobilnya tidak sesusah sebagaimana ketika duduk di kursi rodanya di ruang sidang, eksekutor dan aparat dari Polda Metro Jaya kemudian mengawal mobil tersebut.

“Mau dibawa dulu ke kantor Kejari Jakarta Selatan. Di sana sudah ada dua dokter dari RS Adhyaksa yang sebelumnya memeriksa kondisi kesehatan terpidana,” ungkap seorang aparat dari Kejati DKI Jakarta.

Hasil pemeriksaan dokter RS Adhyaksa pun ditunjukkan baik terhadap Robianto Idup maupun penasihat hukumnya bahwa terpidana Robianto Idup sehat dan bugar saja. Dites juga positif atau tidak Covid-19. Hasil antigennya menunjukkan negatif pula. Maka tidak ada pilihan lagi selain mengurus administrasi eksekusi Robianto Idup.

“Saudara terpidana harus menjalani hukuman, karena ternyata saudara tidak sakit sebagaimana saudara laporkan selama ini. Saudara ternyata sehat-sehat saja seperti kata dokter tadi,” ujar petugas.

Kendati hasil pemeriksaan kesehatannya menunjukkan  baik-baik saja, saat hendak dimasukkan ke mobil tahanan menuju Lapas Cipinang terpidana Robianto Idup masih saja meminta naik kursi roda. Penasihat hukum Fransisca sempat pula meminta ke aparat bahwa dirinya ikut mengawal kliennya di dalam mobil tahanan Kejari Jakarta Selatan. Namun karena tempat duduk Fransisca harus ditempati aparat atau eksekutor, maka Fransisca naik mobil mewah kliennya menuju Lapas Cipinang.

Terpidana Robianto Idup yang Komisaris Utama PT Dian Bara Genoyang (DBG) dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan terhadap Dirut PT Graha Prima Energi (GPE) Herman Tandrin sedikitnya Rp 72 miliar dalam kaitan usaha tambang di Kalimantan. Atas perbuatan yang dilakukannya bersama-sama dengan Dirut PT DBG Iman Setiabudi (sudah lama usai menjalani hukumannya), Robianto Idup yang sebelumnya dituntut JPU Marley Sihombing SH dan Boby Mokoginta SH MH selama 3,5 tahun penjara namun dilepaskan majelis hakim PN Jakarta Selatan di tingkat kasasi atau MA kemudian divonis menjadi 1,5 tahun atau 18 bulan penjara.

 

Penulis: Martini

Category: Jakarta

limitnews
No Response

Comments are closed.