Ini Kata Presidium Kornas Sutrisno Pangaribuan Soal Budiman Sudjatmiko

Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas) Sutrisno Pangaribuan. Limitnews/Istimewa

08/22/2023 12:34:21

MEDAN – Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas) Sutrisno Pangaribuan angkat bicara terkait polemik sosok Budiman Sudjatmiko. Menurut Sutrisno Pangaribuan, jika merujuk pada mundurnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998, maka bangsa ini baru saja melewati 25 tahun usia reformasi. Adalah Budiman Sudjatmiko, salah seorang aktor yang dianggap berjasa. Budiman pernah ditangkap karena dianggap terlibat dalam peristiwa kelabu perebutan kantor DPP PDI (PDIP) pada 27 Juli 1996. Bersama sejumlah relawan, Budiman akhirnya dibebaskan oleh Gus Dur, Presiden keempat RI.

“Budiman sempat mendirikan PRD, dan ikut sebagai peserta Pemilu 1999. Namun PRD tidak berhasil tumbuh sebagai partai reformasi, nasibnya kalah jauh dibanding partai gurem lainnya seperti PBR, PBN, PBB yang sebagian hingga kini masih eksis ikut Pemilu. Gagal di PRD, Budiman pun berlabuh di PDIP, partai yang pernah dibela dan diperjuangkannya. Budiman pernah terpilih sebagai Anggota DPR periode 2014-2019. Kemudian tidak terpilih kembali di Pemilu 2019 karena alasan pemindahan daerah pemilihan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur,” kata Sutrisno melalui pernyataan resminya diterima limitnews.net, Selasa (22/8/2023).

BERITA TERKAIT: Belum Terima Surat Panggilan, Budiman Sudjatmiko Sebut Dirinya PDIP Sejati

Sebagai politisi dengan latar belakang aktivis sebuat Sutrisno, popularitas Budiman kalah dibandingkan Adian Napitupulu, Fadli Zon, Fahri Hamzah, maupun Alm. Desmon Mahesa. Budiman lebih banyak mengurusi persoalan desa serta gagasan besarnya terkait bukit algoritma. Namun karena politik masih berkutat di seputar pembentukan opini melalui layar kaca maupun perangkat media lainnya, Budiman akhirnya kalah.

“Sebagai partai demokrasi, PDIP semakin eksklusif karena distorsi pemahaman elit partai. Para pengurus seakan menjadi pemilik partai, sementara anggota tidak diberi hak apapun. Sehingga tokoh sekelas Budiman saja tidak dianggap hanya karena Budiman bukan pengurus partai atau Anggota DPR. Sementara Adian, meski bukan pengurusan partai, namun karena masih Anggota DPR, dan berhasil menempatkan ratusan koleganya sebagai komisaris BUMN, masih tetap mendapat panggung,” kata Anggota DPRD Sumatera Utara Fraksi PDIP periode 2014-2019 itu.

Manuver Politik Budiman

PDIP sepertinya hati-hati merespons aksi politik Budiman, berbeda perlakuan seperti FX Rudyatmo, Gibran Rakabuming Raka, dan Effendi MS. Simbolon. Budiman tidak takut sama sekali atas ancaman dari PDIP, hingga pernah meminta agar tidak terlalu lama untuk dipanggil. Budiman yang rutin bertemu Jokowi sangat percaya diri dengan manuver politiknya meski beresiko diberi sanksi pemecatan oleh PDIP.

“Manuver politik Budiman mencapai puncak dengan deklarasi relawan Prabowo Budiman (Prabu) di Semarang, Jumat (18/8/2023). Budiman sengaja memilih momentum pasca HUT RI, dan memilih kota yang merupakan kandang banteng. Budiman berani melakukan manuver politik sejauh itu pasti karena mendapat dukungan atau setidaknya restu dari Jokowi. Sehingga PDIP pasti akan hati- hati dalam memberi sanksi kepada Budiman yang sudah ditawari opsi mundur atau dipecat dari PDIP,” ulas Sutrisno.  

Bargaining Politik Budiman

Sutrisno menuturkan, bawa Budiman Sudjatmiko pernah diberi kesempatan memimpin organisasi sayap PDIP, yakni Repdem. Namun tidak ada prestasi yang menonjol dari Budiman melalui Repdem. Tidak ada jejaring Budiman yang solid di PDIP, sehingga aksi yang paling mungkin adalah melakukan manuver politik keluar. Budiman beraksi on men show sehingga tidak memiliki pengikut, dan tidak memiliki barganing position di PDIP. Maka aksi merapat ke Prabowo sebagai pilihan frustrasi.

Meski diberi opsi mundur atau dipecat oleh PDIP, Budiman akhirnya memilih tidak mundur. Bahkan meski telah resmi menyatakan dukungan kepada bacapres Gerindra, Prabowo; Budiman menyatakan tidak akan mundur dari PDIP. Budiman beralasan ingin diberi kesempatan menjelaskan alasan-alasannya. Pilihan diberi sanksi (dipecat) sengaja dipilih Budiman, untuk dijadikan sebagai amunisi untuk terus bermanuver,” ungkap Sutrisno.

Sehingga meski PDIP merasa tidak rugi, namun Budiman akan untung jika dipecat oleh PDIP. Budiman pasti telah melakukan kalkulasi politik sebelum memilih manuver politiknya jelang Pemilu 2024. Sanksi yang diberikan oleh PDIP kepada Budiman akan menentukam arah barganing politik kedalam atau keluar PDIP. Sanksi PDIP terhadap Budiman akan menentukan sebesar apa Budiman, saat ini, dan esok,” kata pria kelahiran pria kelahiran 15 Mei 1977 itu mengakhiri.

BERITA TERKAIT: Tegas Dukung Prabowo, Budiman Sudjatmiko Akui Siap Mendapat Sanksi dari PDIP

 

 

 

 

Penulis: Olo

 

RELATED POSTS
FOLLOW US