Komnas HAM dan Komnas Perempuan Dinilai Seperti Juru Bicara Putri Candrawathi




Komnas Perempuan. Limitnews/Istimewa

09/07/2022 09:22:14

JAKARTA – Komnas HAM dan Komnas Perempuan dinilai seperti Juru Bicara (Jubir) Putri Candrawathi (PC), istri Ferdy Sambo dalam kasus dugaan pelecehan di Magelang, padahal tidak ada laporan polisi Putri Candrawathi mengalami pelecehan di rumah Ferdy Sambo di Magelang, Jawa Tengah.

Komnas Perempuan menyimpulkan dugaan kuat telah terjadi pelecehan seksual kepada Putri Candrawathi yang dilakukan oleh Brigadir J ketika di Magelang. Bahkan Komnas Perempuan merekomendasikan agar agar dugaan kuat tersebut didalami oleh Penyidik Polri.

BERITA TERKAIT: Pasca Ditetapkan Tersangka, Komnas Perempuan Terkesan Istimewakan PC

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi meragukan keterangan Komnas Perempuan. Ketika rekonstruksi, PC masih bertanya kepada RR keberadaan Brigadir J. Kemudian, Brigadir J masuk ke kamar menemui PC.

Kalau memang terjadi pelecehan seksual, kenapa Putri Candrawathi tidak mengusir Brigadir J? Terlebih, dalam pengakuan Komnas Perempuan, Putri menunjukkan indikasi trauma. Yang meragukan lagi, kenapa Putri tidak langsung melapor polisi usai kejadian?

"Dia kan istri jenderal, suaminya kan polisinya polisi, kalau telepon polisi pasti langsung datang. Kalau sekarang kan enggak ada yang bisa dibuktikan, tidak scientific," ujar Edwin kepada wartawan, Senin (5/9/2022).

Pengacara keluarga Brigadir J, Kamarudin Simanjuntak tidak sependapat dengan motif yang disampaikan Komnas Perempuan. Menurutnya, saat di Magelang, Putri sempat berkomunikasi dengan adik Brigadir J via WhatsApp (WA). Mengajaknya datang ke Magelang hingga mengirimkan foto Brigadir J yang sedang menyeterika baju.

"Artinya di situ Ibu Putri tidak ada masalah? Tidak terguncang. Kemudian adiknya juga menyampaikan selamat ulang tahun perkawinan yang ke-22," kata Kamarudin kepada wartawan.

BERITA TERKAIT: Timsus Polri Dalami Keterkaitan Tiga Kapolda dalam Kasus Ferdy Sambo

Aktivis perempuan Irma Hutabarat juga menganggap apa yang disampaikan Putri Candrawathi merupakan rekayasa.

“Korbannya adalah Yosua, sekarang seolah dibalik PC juga sebagai korban. Mereka belum berhenti merekayasa,” kata Irma.

Pegiat media sosial (medsos), Eko Kuntadhi juga menyayangkan pernyataan Komnas Perempuan.

“Biasanya pelecehan seksual, perkosaan atau apa-apa itu menggunakan teori relasi kuasa. Pihak yang merasa lebih dominan dan kuat memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan pelecehan seksual. Dan korbannya adalah yang lebih lemah, secara pangkat, secara ekonomi, secara drajat sosial,” kata Eko Kuntadhi melalui video dari channel Youtubenya, 2045 TV, Selasa (6/9/2022).

Ia menyayangkan ditengah banyaknya kejanggalan seperti ini justru Komnas HAM dan Komnas Perempuan malah seakan menjadi juru bicara dan melontarkan kembali isu pelecehan seksual atau pemerkosaan di Magelang. 

“Kalau pelecehan itu terjadi sebelum pembunuhan, katakanlah tanggal 5 atau 6 Agustus. Tanggal 7 Mbak Putri masih kirim WA lho ke adiknya Brigadir J. Dengan foto Brigadir J sedang menyetrika baju seragam anak Putri Candrawathi. Masa sih seorang yang telah dilecehkan mau memuji-muji orang yang melakukan kejahatan pada dirinya?,” tanya Eko. 

BERITA TERKAIT: Setelah Berkas Ferdy Sambo, Kejagung Juga Akan Kembalikan Berkas Putri Candrawathi ke Penyidik

Menurutnya pula, dorongan publik yang terus menerus itulah yang membuat akhirnya terbongkar satu persatu segala rahasia dalam kasus Ferdy Sambo ini.

“Agak aneh kalau lembaga sekelas Komnas HAM dan Komnas Perempuan karena mereka tidak dibayar sebagai pembela seseorang. Mereka dibayar untuk membela kebenaran dan memverifikasi sebuah cerita,” katanya.

 

 

Penulis: Olo/Tom

Category: NASIONALTags:
limitnews
No Response

Comments are closed.