Makam Unik di Tapanuli Utara

1781




TAPANULI - Lazim dan sudah menjadi tradisi bagi suku Batak. Membangun makam atau kuburan mewah bernilai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah agaknya suatu kebanggan tersendiri sekaligus sebagai sarana pemersatu dan wujud penghormatan kepada leluhur.

Tak terkecuali dengan keluarga besar keturunan, pinompar dari Sandunuk Siregar Silali gelar 'Ampanuntuk Batu' 5 (lima) garis keturunan dari atas. Pada Jumat, 17 Desember 2021 lalu, keluarga besar keturunannya meresmikan pugaran simin atau 'Batu na Pir' senilai Rp 600 juta di Desa Pearung, Paranginan, Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara.

Apa yang aneh, apa yang unik dan apa yang disoroti serta apa pula yang menarik dalam peristiwa ini? Simak Yukkk...

'Sandunuk' dan istrinya boru Nababan. Tulang belulangnya tidak disemayamkan di tempat bagus dan mewah Rp 600 juta seperti kisahnya di atas.

Kenapa begitu. Iya, karena memang sudah tekadnya semasa hidup. Jika tiba waktunya menghembuskan nafas terakhir, kelak. Pesannya, jasadnya harus dikubur di rumah kecil batu liang hasil karyanya.

Adakah suku Batak yang pernah membangun makam sendiri seperti Sandunuk, memahat batu besar untuk tempatnya dikubur bila nanti meninggal dunia? Jawaban pastinya, tentu tidak pernah dan belum ada.

Secara umum. Orang meninggal akan dikuburkan di dalam tanah atau ke dalam kotak semen batu bata.

Nah. Itulah keunikan dan menjadi topik bahasan kali ini. Sandunuk yang lahir dan besar di tepian Danau Toba di lereng gunung Desa Sidimpula, Muara. Pada sekitar dua ratus tahun lalu. Jangkauan pemikirannya jauh ke depan.

Menciptakan kuburannya sendiri dengan cara memahat batu besar membuat liang untuk tempatnya disemayamkan di sana, bila nanti ia meninggal. Ide itu terinsfirasi dari kuburan seorang raja terhormat dan kaya raya.

Ketika wafat. Sang raja dikubur sebagaimana kebiasaan makam orang meninggal, dimasukkan ke dalam peti lalu dikuburkan ke dalam tanah. Pada suatu saat. Manakala hujan deras, banjir menggenangi kuburan raja. Sangkin derasnya arus hujan, peti mati sang raja pun naik dan mengambang.

Warga pontang panting, menyelamatkan diri dan tak terelakkan menginjak-injak peti mati yang di dalamnya terdapat tulang belulang raja. "Prihatin. Harga diri dan kehormatan nama besar 'raja' jadi terabaikan." Begitulah kenangan yang terngiang dalam benak Sandunuk, terinsfirasi.

Ia pun memulai kreatifitasnya. Selama setahun, memahat batu besar membuat lobang, untuk tempatnya dikuburkan nanti. Atas karyanya lantaran membangun kuburannya sendiri dari bongkahan batu besar. Warga sekitar memberinya gelar 'Ampanuntuk Batu.'

Hingga kini, gelar itu menjadi sohor. Sementara nama kecilnya 'Sandunuk' tak lagi ada yang mendengungkan.

Cagar Budaya

Secara umum. Pada setiap kematian orang Batak, selalu terucap kata-kata: Masuk ma ho tu jabu jabu na so pinungka ni tanganmu. Engkau akan tinggal di rumah kecil yang bukan hasil ciptaanmu.

Untuk Sandunuk, luput dari kalimat seperti itu, namun sebaliknya. Tinggal ma ho di Jabu jabu na pinatupa ni tanganmu. Bersemayamlah engkau di rumah kecil hasil karyamu.

Anehnya. Dua kali tulang belulangnya dipindahkan ke bangunan mewah di Pearung. Namun dua kali pula diminta melalui mimpi, supaya tulang belulangnya dikembalikan ke kuburan batu ciptaannya di Muara.

Akankah kuburan bersejarah ini bisa menjadi Situs Cagar Budaya dan menjadi salah satu destinasi wisata di Sumut, khususnya Humbahas? Wait N See.

 

Penulis: Luster Siregar

Category: NASIONALTags:
limitnews
No Response

Comments are closed.